NADIKABAR.COM β Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa, diperkirakan melemah dipengaruhi kenaikan yield obligasi pemerintah AS dan indeks dolar AS, kata Analis Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova
βRupiah hari ini diperkirakan kembali melemah pada kisaran Rp17.900- Rp17.960 dipengaruhi oleh global kenaikan yield obligasi pemerintah AS dan indeks dolar walaupun harga minyak relatif turun dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan ini memudar,β ucapnya kepada NadiKabar di Jakarta, Selasa.
Tercatat, yield obligasi AS naik menjadi 5,31 persen dan indeks dolar AS naik di level 102,12. Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga memudar karena data tenaga kerja AS yang lemah.
Saat ini, hasil survei menunjukkan suku bunga tidak berubah pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Oktober 2026 dengan persentase 80 persen. Adapun pertemuan FOMC bulan Desember 2026, survei mencatat suku bunga akan naik dengan persentase 69 persen.
Melihat sentimen domestik, lelang obligasi pemerintah RI hari ini disebut akan diuji oleh yield obligasi pemerintah AS yang tinggi.
βLelang obligasi hari ini masih menawarkan bunga yg menarik, dimana spread selisih bunga dengan obligasi pemerintah AS masih cukup lebar namun risiko meningkat tercermin dari CDS (Credit Default Swap) 5 tahun sebesar 95,69,β ungkap Rully.