NADIKABAR.COM — Pelemahan nilai tukar rupiah di atas Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan berlangsung hingga akhir 2026. Bahkan mata uang Garuda ini masih berpotensi terus melemah hingga sentuh level Rp 18.350
Pengamat Mata Uang, Lukman Leong, berpendapat pelemahan rupiah ini didorong oleh sejumlah faktor baik eksternal maupun internal. Dalam hal ini, faktor eksternal yang dimaksud seperti kebijakan suku bunga The Fed dan harga minyak global yang tinggi. Sedangkan faktor internal disebabkan oleh laporan MSCI atas pasar modal Indonesia yang menimbulkan arus keluar modal asing alias capital outflow.
"Tekanan terhadap rupiah masih berpotensi bertahan hingga akhir tahun, terutama karena ketidakpastian terkait MSCI, arus keluar modal asing, serta tingginya imbal hasil obligasi AS dan harga minyak," kata Lukman kepada NadiKabar, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya selama faktor-faktor tersebut belum mereda, ruang penguatan rupiah akan relatif terbatas sehingga sulit untuk kembali ke level 17.000-an. Bahkan jika arus keluar modal terus berlanjut yang membuat dolar semakin kuat, rupiah berisiko melemah lebih jauh.
"Akan terus tertekan hingga awal 2027, kecuali ada perubahan besar secara fundamental internal maupun eksternal, seperti pengukuhan status pasar oleh MSCI, berakhitnya perang di Timur Tengah, harga minyak menurun," jelasnya.