Di sisi lain, mata uang utama negara maju kompak menguat terhadap dolar AS. Euro Eropa naik 0,46 persen, poundsterling Inggris menguat 0,51 persen, dolar Australia terapresiasi 0,49 persen, dolar Kanada naik 0,39 persen, dan franc Swiss menguat 0,61 persen.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen negatif dari pasar saham domestik dan kasus penyadapan.

"Rupiah melemah tertekan oleh sentimen yang masih lemah di pasar ekuitas domestik dan kasus penyadapan. Indeks dolar AS sendiri terpantau turun cukup besar dan mayoritas mata uang Asia juga menguat cukup besar terhadap dolar AS," ujar Lukman kepada NadiKabar.com.