NADIKABAR.COM β€” Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu, bergerak melemah 18 poin atau 0,10 persen menjadi Rp18.174 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.156 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi indeks dolar AS dan yield obligasi pemerintah AS yang meningkat.

β€œIndeks dolar dan yield obligasi pemerintah AS meningkat seiring kembali meningkatnya harga minyak walaupun The Fed diperkirakan akan menahan suku bunga di 4 persen pada pengumuman nanti malam,” ucapnya kepada NadiKabar di Jakarta, Rabu.

Selain itu, pelemahan dipengaruhi sentimen domestik seiring adanya tekanan di pasar saham dan menurunnya minat pelaku pasar terhadap lelang obligasi pemerintah pada Selasa (27/10).

Dia menerangkan bahwa tekanan di pasar obligasi terindikasi dengan kenaikan yield menjadi 7,55 persen tenor 10 tahun, sementara indeks bursa sudah terkoreksi lebih dari 40 persen dan capital inflow dari pasar saham sudah lebih dari Rp125 triliun.

Menurut dia, pemerintah harus mendorong penguatan kelembagaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan otoritas bursa sehingga mendukung tata kelola yang pada perdagangan di pasar, termasuk pemenuhan rasio free float.

Adapun kebijakan Bank Indonesia (BI) dinilai harus ketat/tight money policy dengan kenaikan suku bunga acuan dan instrumen non bunga lainnya seperti kenaikan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) guna menahan pelemahan rupiah.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp18.140-Rp18.200 per dolar AS.