Di sisi lain, mata uang utama negara maju kompak menguat terhadap dolar AS. Euro Eropa naik 0,40 persen, poundsterling Inggris menguat 0,38 persen, dolar Australia naik 0,09 persen, dolar Kanada terapresiasi 0,47 persen, dan franc Swiss menguat 0,66 persen.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah berpeluang menguat seiring penurunan harga minyak mentah dunia dan pelemahan indeks dolar AS.

"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak mentah dunia akibat harapan tercapainya perdamaian di Timur Tengah, serta pelemahan indeks dolar AS karena antisipasi hasil pemilu paruh waktu di Amerika Serikat," ujar Lukman kepada NadiKabar.com.