NADIKABAR.COM — Nilai tukar rupiah kompak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan dolar Singapura. Tren pelemahan mata uang garuda terjadi hingga perdagangan siang hari ini.

Dolar AS menguat cukup tinggi ke level Rp 17.900. Penguatan juga terjadi pada dolar Singapura yang terus mendekati level Rp 14.000 terhadap rupiah.

Dikutip dari Bloomberg, Senin (5/10/2026), dolar AS diperdagangkan pada level Rp 17.941. Mata uang Paman Sam menguat sebesar 59 poin atau 0,33%.

Sementara itu, dolar Singapura selangkah lagi menyentuh level Rp 14.000. Mata uang milik Negeri Singa menguat sebesar 6,72 poin atau 0,05% dan berada pada level Rp 13.997.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah mengalami depresiasi 7,74% secara year to date (ytd). Pelemahan nilai tukar ini dinilai masih beriringan dengan pergerakan mata uang negara-negara tetangga.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan pergerakan nilai tukar sebuah negara dipengaruhi oleh faktor global dan domestik, termasuk yang bersifat sentimen dan kebutuhan. Contohnya, keputusan Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga hingga konflik di Selat Hormuz yang mengakibatkan terjadinya gangguan terhadap pasokan energi.

Pelaku pasar akan melihat kondisi fiskal AS di ambang defisit sehingga akan menerbitkan surat utang lebih banyak dengan suku bunga lebih tinggi. Hal inilah yang membuat posisi indeks nilai dolar AS (DXY) melampaui level 101 dan membuat mata uang negara lain melemah.

"Ketika DXY, indeks dollar menguat, kira-kira mata uang lain? Melemah," ujar Erwin dalam Taklimat Media di kantor BI, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).

Sementara itu berdasarkan Google Finance, dolar Singapura bergerak naik secara konsisten pada 2026. Dolar Singapura masih diperdagangkan di level Rp 12.900-an pada awal Januari 2026, namun nilainya terus menguat hingga sempat tembus level Rp 14.000 pada Juni, Juli, Agustus, dan September.