"Saat itu, lingkungannya dipenuhi oleh para pemilik usaha kecil. Kebanyakan orang tidak terlalu memedulikan pendidikan, fokusnya adalah pada hal-hal praktis-khususnya, bagaimana cara menghasilkan uang," ujar Xiang.
Dia mengatakan banyak dari mereka yang berhasil melakukannya. Anak-anak mereka tumbuh di masa kejayaan pertumbuhan ekonomi dua digit.
Namun, katanya, ekonomi melambat selama pandemi COVID-19 dan belum pulih kembali. Kondisi itu membuat rumus lama seperti kerja keras sama dengan pekerjaan yang terjamin, tidak lagi berlaku. Dia menilai anak muda di China menginginkan narasi baru.
Tingkat pengangguran kaum muda sempat mencapai 21,3% sebelum pemerintah berhenti memublikasikan data tersebut pada pertengahan 2023. Mereka yang memiliki 'pekerjaan bagus', seperti pegawai negeri, karyawan perusahaan, dan insinyur, merasa cemas akan kehilangan pekerjaan mereka.
Mereka terus-menerus mengeluh secara daring tentang jam kerja yang panjang dan melelahkan, budaya kantor yang toksik, serta ketakutan akan 'kutukan usia 35' atau batas usia dalam iklan lowongan kerja yang membuat seseorang lebih sulit mendapatkan pekerjaan baru setelah melewati usia tersebut.
Akibat adanya penyensoran, sulit untuk mengetahui sejauh mana sentimen ini sebenarnya tersebar di China. Namun, perasaan terhimpit itu merembes ke dalam diskursus publik melalui berbagai cara lain.
Kecemasan tersebut dengan cepat berubah menjadi kemarahan dalam perdebatan daring, baik mengenai ujian masuk universitas, uang mahar pernikahan, maupun skandal keamanan pangan. Istilah-istilah yang mencerminkan suasana hati ini telah menjadi tren selama bertahun-tahun.
Yang paling terkenal adalah 'lying flat' (berbaring rebahan), yaitu saat orang-orang memilih untuk sepenuhnya keluar dari persaingan hidup yang sengit dan 'involution' (involusi) yang merupakan istilah untuk menggambarkan persaingan ketat yang hanya menghasilkan sedikit imbalan berarti.
Xiang meyakini ada dua faktor yang memperparah kecemasan ini, yakni pasar properti dan sistem pendidikan tinggi. Ledakan pasar properti, yang dipicu oleh ketergantungan pemerintah daerah pada penjualan lahan, telah mengaitkan rasa aman dan kesuksesan keluarga dengan nilai rumah mereka.
Selain itu, lonjakan jumlah mahasiswa yang masuk universitas telah menaikkan standar pencapaian. Dia menyebut hal itu memicu persaingan terasa semakin sengit. Hasilnya, menurut Xiang, adalah sebuah pola umum yang diikuti semua orang: meraih gelar yang bagus, mendapatkan pekerjaan stabil, menikah, dan membeli rumah.
"Ketika 1,4 miliar orang berlomba dalam ajang yang sama, itulah yang disebut involusi," ujarnya.
Xiang menyebut banyak rekan sejawatnya yang lebih mengutamakan publikasi penelitian dan bersikap 'cukup dingin' terhadap metode-metode yang dia gunakan. Beberapa orang bahkan memperingatkannya untuk 'menjaga bulu-bulunya', sebuah ungkapan China yang bermakna menjaga reputasi diri. Namun, Xiang justru merasa bersemangat dengan popularitasnya itu.
"Jika ada yang menyebut saya 'influencer', saya akan menganggapnya sebagai pujian. Sebab, pengaruh nyata yang bisa saya berikan adalah membuat orang berpikir secara mandiri," ujarnya.