NADIKABAR.COM — Fenomena baru sedang muncul di China. Anak muda atau gen Z di sana sedang nge-stan dengan seorang profesor antropologi yang dianggap berani membahas keresahan mereka.
Sebagai informasi, nge-stan sendiri istilah dalam bahasa gaul gen Z. Nge-stan bisa diartikan sebagai menggemari atau mengidolakan. Istilah itu biasanya digunakan penggemar K-Pop.
Kembali soal profesor idola baru anak muda China, sosoknya ramai dibahas karena berani mengangkat tema anxiety atau kecemasan. Sosok idola baru tersebut ialah Profesor Biao Xiang
Dilansir BBC, Minggu (27/9/2026), seorang anak muda China, Zihan Han, bahkan menganggap Profesor Biao Xiang bak 'Bintang yang dikirim dari langit'. Antropolog berusia 54 tahun itu telah menjadi sosok tak terduga bagi generasi yang merasa kecewa dan kehilangan arah.
Dia digemari anak muda China karena topik yang dia bahas, yakni 'kecemasan dan cara menghadapinya'. China memang sedang mengalami perkembangan ekonomi dan teknologi dengan sangat pesat.
Namun, banyak hal yang mencemaskan gen Z di sana. Mulai dari masalah pekerjaan, hubungan asmara hingga tekanan berat untuk terus bisa bersaing dan mengikuti laju perkembangan zaman.
Xiang telah diwawancarai oleh berbagai media besar di China dan berkeliling ke sejumlah kampus ternama untuk memberikan ceramah, termasuk di almamaternya, Universitas Peking yang bergengsi. Salah satu sesinya awal tahun ini bahkan disiarkan secara langsung karena auditorium kampus sudah penuh sesak.
Bahkan, media China melaporkan kini muncul ungkapan: 'Jika ragu, tanyakan saja pada Biao Xiang'. Xiang juga jadi pembicara di Singapura baru-baru ini.
Di sana, Xiang membahas tentang pengakuan yang dicari oleh anak muda di China saat ini. Ratusan anak muda, mayoritas diaspora China, memenuhi lokasi Xiang memberi ceramah. Usai acara, anak-anak muda itu antre untuk berfoto dengan Xiang. Lulusan muda asal China menyebutnya sebagai 'pertemuan penggemar bernuansa akademis'.
Dalam ceramahnya, Xiang menganggap anak muda China sering kali mengharapkan validasi dari berbagai sistem, mulai dari ujian kompetitif hingga pekerjaan yang menjamin stabilitas, dan menjadikan validasi tersebut sebagai tolok ukur harga diri. Dia menganggap hal itu menjadi pola yang sangat melelahkan sekaligus merusak mental.
Menurutnya, jauh lebih sehat untuk mencari makna dan pemahaman dari orang lain. Lalu, menggunakannya sebagai sarana untuk lebih memahami diri sendiri. Namun, dia mengingatkan hal itu bukan solusi instan.
Isu kecemasan generasi muda memang terlihat biasa. Namun di negara di mana ketidakpuasan bisa menjadi isu politik yang sensitif dan sangat disensor, Xiang adalah sosok publik langka yang berani membahas apa yang dia sebut sebagai 'titik nyeri zaman ini'.
"Semua orang tahu di mana letak masalahnya, tetapi mereka enggan melihatnya. Terkadang kenyataan itu terlalu menyakitkan untuk dihadapi, atau mereka tidak tahu caranya," ujarnya di Singapura.
"Namun, bagi seorang akademisi, hal itu tidak menakutkan jika kita bisa mendeskripsikannya-karena dengan begitu kita bisa menganalisis dan menanganinya," sambungnya.
Kini, Xiang tinggal di Jerman dan menjabat sebagai direktur Max Planck Institute for Social Anthropology serta meneliti perubahan sosial di China dan wilayah Asia lainnya. Xiang meyakini masyarakat China sedang berada di 'titik balik', di mana orang-orang mencari makna hidup sembari berupaya memahami perubahan sosial dan ekonomi yang berlangsung cepat.
Dia melihat adanya kontradiksi antara generasi muda yang merasa gamang di tengah negara yang kuat dan tegas dengan rasa kecewa meski telah terjadi kemajuan pesat. Menurutnya, hal itu membuat dirinya punya tugas untuk mengurai faktor-faktor pemicu hal tersebut.
Istilah-istilah Populer yang Dibuat Xiang
Xiang telah membuat istilah-istilah menarik untuk menggambarkan penyebab fenomena ini. Pertama, ada istilah 'Mengambang' untuk menggambarkan orang-orang yang bekerja tanpa henti demi bertahan hidup. Dia mengibaratkannya sebagai burung kolibri yang terus mengepakkan sayapnya agar tetap melayang di udara.
Kedua, ada 'Lingkungan terdekat' yang merujuk pada hal-hal yang berada tepat di sekeliling kita. Xiang berpendapat bahwa anak muda di China terlalu sibuk memikirkan hal yang 'sangat dekat' dan hal yang 'sangat jauh', sementara ruang di antaranya-yaitu 'lingkungan terdekat' malah terabaikan.
Hal ini, menurutnya, membuat mereka merasa terputus dari lingkungan sekitarnya. Pandangan ini tampaknya sangat menggugah hati kaum muda yang sedang mencari jawaban.
Seorang pengguna di platform RedNote menulis, 'Ia secara konsisten memandang berbagai persoalan dari sudut pandang kelompok rentan, mengaitkan tekanan pribadi dengan faktor-faktor berskala makro, serta mendorong orang untuk menjalani hidup secara aktif-sungguh luar biasa'.
Yang lain berkata 'Dia tidak pernah melontarkan kata-kata manis yang kosong dan sekadar menenangkan hati; sebaliknya, dia turun langsung untuk menghadapi dilema kehidupan nyata bersama-sama dengan kita'.
Zihan Han sendiri mengatakan kuncinya terletak pada kesediaan Xiang untuk berbicara secara terbuka mengenai hal-hal tersebut.
"Mereka yang pernah mengatakan hal serupa tidaklah sehebat Pak Xiang, sementara orang-orang yang sehebat dia justru tidak pernah mengatakan hal-hal seperti itu," ujarnya.
Xiang lahir pada tahun 1972. Dia tumbuh dewasa di tengah masa saat China bangkit dari era kekuasaan Mao Zedong untuk mulai berdagang dengan dunia luar.
China mengalami urbanisasi besar-besaran. Masyarakat biasa beralih menjadi wirausahawan dan dunia bisnis mulai berkembang pesat untuk pertama kalinya di negara komunis tersebut.
Xiang tumbuh besar di Wenzhou. Dia menyaksikan kota itu bertransformasi menjadi pelabuhan industri.
"Saat itu, lingkungannya dipenuhi oleh para pemilik usaha kecil. Kebanyakan orang tidak terlalu memedulikan pendidikan, fokusnya adalah pada hal-hal praktis-khususnya, bagaimana cara menghasilkan uang," ujar Xiang.
Dia mengatakan banyak dari mereka yang berhasil melakukannya. Anak-anak mereka tumbuh di masa kejayaan pertumbuhan ekonomi dua digit.
Namun, katanya, ekonomi melambat selama pandemi COVID-19 dan belum pulih kembali. Kondisi itu membuat rumus lama seperti kerja keras sama dengan pekerjaan yang terjamin, tidak lagi berlaku. Dia menilai anak muda di China menginginkan narasi baru.
Tingkat pengangguran kaum muda sempat mencapai 21,3% sebelum pemerintah berhenti memublikasikan data tersebut pada pertengahan 2023. Mereka yang memiliki 'pekerjaan bagus', seperti pegawai negeri, karyawan perusahaan, dan insinyur, merasa cemas akan kehilangan pekerjaan mereka.
Mereka terus-menerus mengeluh secara daring tentang jam kerja yang panjang dan melelahkan, budaya kantor yang toksik, serta ketakutan akan 'kutukan usia 35' atau batas usia dalam iklan lowongan kerja yang membuat seseorang lebih sulit mendapatkan pekerjaan baru setelah melewati usia tersebut.
Akibat adanya penyensoran, sulit untuk mengetahui sejauh mana sentimen ini sebenarnya tersebar di China. Namun, perasaan terhimpit itu merembes ke dalam diskursus publik melalui berbagai cara lain.
Kecemasan tersebut dengan cepat berubah menjadi kemarahan dalam perdebatan daring, baik mengenai ujian masuk universitas, uang mahar pernikahan, maupun skandal keamanan pangan. Istilah-istilah yang mencerminkan suasana hati ini telah menjadi tren selama bertahun-tahun.
Yang paling terkenal adalah 'lying flat' (berbaring rebahan), yaitu saat orang-orang memilih untuk sepenuhnya keluar dari persaingan hidup yang sengit dan 'involution' (involusi) yang merupakan istilah untuk menggambarkan persaingan ketat yang hanya menghasilkan sedikit imbalan berarti.
Xiang meyakini ada dua faktor yang memperparah kecemasan ini, yakni pasar properti dan sistem pendidikan tinggi. Ledakan pasar properti, yang dipicu oleh ketergantungan pemerintah daerah pada penjualan lahan, telah mengaitkan rasa aman dan kesuksesan keluarga dengan nilai rumah mereka.
Selain itu, lonjakan jumlah mahasiswa yang masuk universitas telah menaikkan standar pencapaian. Dia menyebut hal itu memicu persaingan terasa semakin sengit. Hasilnya, menurut Xiang, adalah sebuah pola umum yang diikuti semua orang: meraih gelar yang bagus, mendapatkan pekerjaan stabil, menikah, dan membeli rumah.
"Ketika 1,4 miliar orang berlomba dalam ajang yang sama, itulah yang disebut involusi," ujarnya.
Xiang menyebut banyak rekan sejawatnya yang lebih mengutamakan publikasi penelitian dan bersikap 'cukup dingin' terhadap metode-metode yang dia gunakan. Beberapa orang bahkan memperingatkannya untuk 'menjaga bulu-bulunya', sebuah ungkapan China yang bermakna menjaga reputasi diri. Namun, Xiang justru merasa bersemangat dengan popularitasnya itu.
"Jika ada yang menyebut saya 'influencer', saya akan menganggapnya sebagai pujian. Sebab, pengaruh nyata yang bisa saya berikan adalah membuat orang berpikir secara mandiri," ujarnya.