"Depan belakang, gedung depan, gedung belakang, jadi tahunya depan belakang, Pak, tapi saya nggak gitu ingat yang mana penindakan mana intelijen," jawab Hendra.

Hendra mengatakan Orlando justru menyebut dirinya pelit dan lemah karena hanya mengusulkan Rp 50 juta. Dia mengaku tersinggung atas ucapan tersebut.

"Tanggapannya Pak Orlando dengan ucapannya Saksi?" tanya jaksa.

"Ya saya kena semprot, Pak," jawab Hendra.

"Dia bilang 'Lemah kamu' gitu, 'Pelit'. Ya saya juga tersinggung, Pak," jawab Hendra.

Hendra mengatakan nilai uang operasional yang disepakati akhirnya menjadi Rp 250 juta per bulan. Dia mengatakan uang itu diserahkan oleh pegawainya bernama Ute ke pegawai Orlando bernama Aditya.

"Ya saya bilang kira-kira berapa baik gitu, dia bilang, ya sudah yang depan kalau nggak salah Rp 100 (juta), yang ini Rp 150 (juta), pokoknya penindakan Rp 100 (juta) intelijen Rp 150 (juta)," jawab Hendra.

"Di situ saksi langsung mengiyakan atau bagaimana?" tanya jaksa.