Bagi kebanyakan dari kita, gletser bukanlah hal pertama yang terlintas di pikiran ketika kita memikirkan daerah tropis. Berdiri di hutan hujan yang panas dan lembap lalu mendongak untuk melihat kilauan es di antara pegunungan terasa tidak sesuai. Namun, hal ini dapat ditemukan di Andes, Afrika bagian timur, dan Indonesia.
Sebanyak 95% gletser tropis berada di Pegunungan Andes. Sebagian besar ditemukan di pegunungan Peru, dan gletser-gletser ini juga membentang ke utara menuju Ekuador dan Kolombia.
Di Afrika, di perbatasan antara Republik Demokratik Kongo dan Uganda, terdapat gletser Dataran Tinggi Stanley. Sejak 2020, gletser ini telah kehilangan 3% dari luas permukaannya. Penyusutan ini menandai ancaman serius terhadap keamanan pasokan air bagi masyarakat setempat.
Sedangkan di Asia Tenggara, gletser lebih sulit ditemukan. Karenanya gletser di Carstensz, Puncak Jaya menjadi satu-satunya. Ini adalah gletser tropis terakhir yang tersisa di antara Pegunungan Andes di timur dan Pegunungan Himalaya di barat.
Gletser Carstensz di Papua terletak di sub-puncak Puncak Jaya, yang menjulang hingga ketinggian 4.884 meter. Dikenal oleh penduduk setempat sebagai 'salju abadi', gletser ini telah lama memiliki makna spiritual dan penghormatan yang mendalam.
Sekitar 100 tahun yang lalu, seluruh pegunungan itu tertutup es permanen di keempat puncaknya, tetapi sekarang hanya tersisa dua bagian saja. Sejak 1800-an, luas es di Puncak Jaya telah berkurang dari sekitar 1.900 hektar menjadi hanya 16 hektar. Sejak 2002, diperkirakan luas es tersebut telah berkurang hingga 95%.