NADIKABAR.COM — Pecahan roket China ZhuQue-2E (ZQ-2E) diduga jatuh dan ditemukan di salah satu kawasan perkebunan sawit di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Benda yang termasuk sampah antariksa ini sudah diamankan untuk diidentifikasi lebih lanjut. Lantas, apa sebenarnya sampah antariksa?
Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin menjelaskan, sampah antariksa adalah bagian roket peluncur atau satelit yang tidak berfungsi lagi yang mengorbit Bumi atau dalam perjalanan menuju orbit.
"Jumlahnya saat ini belasan ribu. Karena hambatan udara, sampah antariksa di orbit rendah makin lama makin turun ketinggiannya," jelas Thomas dalam blog pribadinya, dikutip Rabu (21/10).
Saat dihubungi lebih lanjut, Thomas mengatakan roket ZhuQue-2E melaksanakan tugas peluncuran 10 satelit pada 14 Oktober 2026. Namun, badan roket tersebut terbakar dan pecah.
Hasil analisis orbit menunjukkan kesesuaian bahwa bagian yang ditemukan di Kalimantan kemungkinan besar adalah salah satu pecahan tersebut. Saat ini, benda tersebut telah diamankan ke Lanud Iskandar Pangkalan Bun untuk identifikasi lebih lanjut.
Menurut hasil analisis orbit dan laporan warga yang mendengar suara gemuruh, komponen roket berupa kepingan logam besar terkoyak itu kemungkinan jatuh sekitar pukul 17.36 WIB pada hari Minggu (18/10), sebelum ditemukan keesokan paginya (19/10).
ZhuQue-2E bukan sampah antariksa China pertama yang jatuh di Kalimantan, sebelumnya juga pernah ditemukan di Kalimantan Tengah pada 2021 berupa pecahan roket Changzheng-8, serta di Kalimantan Barat pada 2022 berupa sisa roket Changzheng-5B.
Selain itu, peristiwa jatuhnya sampah antariksa di wilayah Indonesia juga pernah terjadi di Sumatera Barat (2017), Madura (2016), Bengkulu (2003), Lampung (1988), Sulawesi (1981).
Thomas mengatakan bahwa prosedur penanganan yang melibatkan koordinasi antar-negara cukup rumit sehingga sampah antariksa biasanya hanya disimpan oleh aparat setempat atau menjadi materi edukasi untuk masyarakat.
"Hanya kerugian besar yang dituntut oleh negara yang mengalami kerugian, seperti Kanada menuntut Uni Soviet karena sampah antariksa yang jatuh di Kanada bermuatan nuklir," kata Thomas kepada NadiKabar.com, Rabu (21/10).
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) Robertus Heru Triharjanto mengatakan sampah antariksa mungkin berukuran besar, padat, berat, dan tajam sehingga berpotensi menghancurkan objek yang tertimpa atau yang menjadi landasannya.
Selain bahaya utama tersebut, jatuhnya sampah antariksa juga bisa mengganggu aktivitas penerbangan.
"Dengan masuknya benda apapun ke ruang udara seperti sampah antariksa (atau bahkan balon), ada kemungkinan bertabrakan dengan pesawat yang melintas. Sehingga umumnya jika diketahui akan ada yang melintas dilakukan koordinasi dengan otoritas lalu lintas udara (NOTAM)," ungkap Heru.
Sebagian besar satelit modern yang ada di orbit rendah umumnya dirancang untuk terbakar habis di atmosfer saat masuk kembali ke gravitasi bumi.Namun, material tertentu mungkin tidak habis terbakar karena lebih tahan panas dan mencapai permukaan Bumi.
Heru menjelaskan kerugian akibat jatuhnya komponen roket telah diatur melalui regulasi internasional.
"Setiap peluncuran satelit harus diasuransikan, termasuk atas kerugian pihak ketiga yang mungkin timbul. Hal ini diatur di Liability Convention yang merupakan bagian dari Outer Space Treaty (perjanjian internasional) dan hukum nasional di negara tempat peluncuran tersebut," ungkap Heru.
Seiring dengan peningkatan aktivitas peluncuran satelit komersial dan misi lainnya secara global, kemungkinan risiko benda jatuh dari antariksa juga ikut meningkat.
Dalam hal ini, meskipun pihak penyedia jasa peluncuran telah mengantisipasi risiko bagi penduduk dengan menjatuhkan komponen ke laut atau daerah tidak berpenghuni, kegagalan teknis masih mungkin terjadi.
Heru mengatakan temuan sampah antariksa di Indonesia dapat dilaporkan ke polisi dan BRIN. Polisi nantinya akan menjalankan prosedur untuk mengamankan benda tersebut hingga staf dari BRIN datang untuk melakukan investigasi.
"Jika harus dipindah karena alasan keamanan atau keselamatan (misalnya jatuh di kediaman atau menimbulkan kebakaran) ambil foto-foto yang cukup. Hal tersebut diperlukan untuk bukti-bukti klaim asuransi ke pemilik benda antariksa," jelasnya.