Kami mengintip proses masak sapo yang dikerjakan oleh beberapa pegawai di dapur, di bagian belakang rumah makan. Mereka sigap mengaduk satu per satu isian sapo dengan sumpit dan meracik bumbu.

Nantinya, sapo disajikan dalam kondisi wadah tertutup untuk menjaga kehangatannya. Pembeli pun akan mendapati kuah sapo masih berbuih-buih ketika tutup sapo dibuka.

Kami pesan Sapomie Original (Rp45 ribu) dengan isian mie. Mie yang dipakai merupakan mie telur bertekstur tebal mirip udon. Hanya saja warnanya kekuningan, teksturnya sedikit lebih padat, dan punya rasa gurih khas telur.

Mie homemade ini didatangkan dari langganan Sapomie Acek Ameng. Mereka mengatakan mie-nya dibuat segar tanpa bahan pengawet atau pengenyal.

Slurpp! Tekstur mie yang lembut licin berpadu nikmat dengan kuah sapo yang kental, gurih, dan manis. Cita rasanya khas dan aromanya harum, seperti paduan saus tiram, kecap ikan, minyak wijen, dan air kaldu pada sajian ini.

Seporsinya dilengkapi irisan sawi putih dan sawi hijau yang masih renyah segar. Kemudian ada bakso ikan, bakso ayam, dan udang.

Yang bikin kami suka, setiap kondimen sapo mie ini terasa fresh dan berkualitas. Aneka baksonya terasa 'daging' dan potongan udangnya manis juicy ketika digigit, menambah kenikmatan setiap santapan.

Untuk Sapomie Special (Rp65 ribu), kami memilih isian kwetiau. Kuahnya sama, tapi ada tambahan topping irisan daging sapi yang cukup tebal dengan tekstur juicy dan mudah digigit.

Rupanya, kami lebih suka sapo isi kwetiau karena teksturnya lebih lembut dan nikmat saat diseruput. Permukaan kwetiau yang licin juga seolah bisa 'mengikat' kuah sapo dengan lebih maksimal.