NADIKABAR.COM — Program beasiswa serta pengembangan kepemimpinan intensif, Saraswati Fellowship, kembali meluluskan perempuan-perempuan muda binaannya sebagai upaya mendukung pencetakan pemimpin-pemimpin dari kalangan perempuan di Indonesia.

Sebanyak 30 talenta perempuan muda dinyatakan lolos dari pembinaan dan pembekalan dasar-dasar kepemimpinan hingga penciptaan dampak ketika nantinya mereka memenuhi peran tersebut di dunia nyata.

"Saya berharap kepada semua partner, kalian bisa menjadi bagian dari solusi untuk masa depan Indonesia yang lebih baik karena kalian memiliki latar belakang yang berbeda-beda, ada dokter di bidang kesehatan, wirausaha, teknologi AI, dan berbagai macam bidang lainnya," kata Inisiator Program Saraswati Fellowship Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo di Jakarta, Sabtu malam.

Rahayu Saraswati mengatakan keberlanjutan pencetakan pemimpin perempuan yang tangguh bukanlah upaya satu pihak saja, namun membutuhkan keterlibatan banyak pihak lewat kolaborasi lintas sektor dan salah satu contoh nyatanya melalui Program Saraswati Fellowship.

Untuk menciptakan para pemimpinan perempuan yang tangguh tersebut, dalam inisiatif ini para peserta mendapatkan pembinaan dari tiga sisi yakni pemahaman kekuatan diri, kepemimpinan organisasi, dan cara menciptakan dampak nyata.

Seluruh pembinaan itu dilakukan secara berkesinambungan satu sama lain sehingga harapannya dapat memberikan bekal yang cukup untuk para lulusannya menciptakan dampak positif di kehidupan nyata mereka.

Upaya pencetakan pemimpin yang berkelanjutan ini juga diperkuat oleh kehadiran sosok-sosok berpengaruh di Indonesia yang bertindak sebagai super mentor, salah satunya adalah Menteri Luar Negeri (Menlu) RI periode 2014-2019 dan periode 2019-2024 Retno Marsudi.

Retno menyatakan sengaja mengambil bagian dalam program ini sebagai langkah kecil untuk menutup kesenjangan gender yang ditemukan di level pimpinan tidak hanya di Indonesia tapi juga masih banyak ditemukan di tingkat global.

Dalam acara kelulusan ini, Retno memberikan pandangan strategis mengenai tantangan struktural yang masih menghambat perempuan, sekaligus membekali para peserta agar tangguh dalam mendobrak sistem yang belum sepenuhnya setara.

Retno memaparkan realitas global melalui data dari laporan World Economic Forum (WEF) di 2026 bertajuk "Global Gender Gap" dan menyebut dalam pemberdayaan di sektor politik ternyata kesenjangan antara perempuan dan laki-laki begitu besar hingga 77,9 persen. Baru sebanyak 22,1 persen perempuan yang dapat diberdayakan di sektor politik.

Data lain dari UN Women dan UN DESA 2026 memprediksi dunia masih membutuhkan waktu sekitar 63 tahun untuk mencapai kesetaraan gender di Parlemen Nasional. Padahal sektor politik merupakan sektor yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis.

Oleh karena itu ia menekankan urgensi untuk terus memperbanyak perempuan di meja pengambilan keputusan secara konsisten.

"Kita memerlukan lebih banyak perempuan yang berada di tempat-tempat pengambilan keputusan. Di sanalah kesempatan untuk mempengaruhi kebijakan, mengubah sistem, dan memperbaiki keadaan terbuka lebih luas," ucap Retno.

Retno yang kini menjabat sebagai Utusan Khusus Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB untuk Bidang Air itu menekankan rantai keberlanjutan pemimpin perempuan hanya bisa dipertahankan oleh para perempuan sendiri.

Ia mengingatkan kepada para lulusan dari program ini agar kelak bersedia menjadi pembuka jalan bagi perempuan-perempuan lainnya untuk menjadi pemimpin masa depan.

"Jangan lupa, pada saat kalian nanti sudah berhasil, aamiin, bukalah pintu untuk perempuan-perempuan lainnya. That is what this fellowship is all about," ucap Retno Marsudi.