NADIKABAR.COM — Hakikat karya sastra bukan sekadar sarana hiburan, apalagi hanya untuk menjadi media menyampaikan pikiran pengarangnya kepada para pembaca. Sastra hadir untuk misi besar, yakni merawat jiwa dan pikiran, baik bagi penulisnya maupun pembaca.

Di mata Dr Sutejo, akademisi dan penggerak literasi yang dikenal getol menyemangati siswa dan mahasiswa untuk menggemari sastra, termasuk menulis, sastra adalah roh kehidupan bagi suatu bangsa.

Selain itu, sastra juga menjadi cermin bagi realitas kehidupan satu bangsa, sekaligus berfungsi sebagai "busur" yang menggerakkan panah cita-cita besar satu bangsa.

Mengutip pendapat guru besar bidang sastra dan neurosains dari Universitas Ohio (OSU) Amerika Serikat Angus Fletcher, Sutejo juga meyakini bahwa sastra justru berperan besar dalam membersamai manusia dalam membangun peradaban bersama.

Peran agung sastra itu telah disadari, sekaligus dipraktikkan oleh leluhur bangsa kita sesuai konteks zamannya, yakni dalam bentuk cerita dongeng inspiratif. Secara psikologis dan pedagogis, tradisi mendongeng diketahui relevan dengan ikhtiar membangun karakter bangsa.

"Jadi, sastra itu, selain tidak bisa dipungkiri sebagai sarana hiburan, juga berfungsi sebagai teman diskusi imajinatif bagi pembaca maupun pengarangnya, sekaligus sebagai simulator pikiran dan jiwa yang menggerakkan," kata Sutejo, peraih penghargaan kebudayaan dari Pemprov Jatim (2022) dan pemenang sayembara penulisan buku bacaan fiksi tingkat Jawa Timur (2000).

Karena itu, lelaki yang suka berkebun dengan pola organik ini menyediakan rumah bukunya untuk para siswa dan mahasiswa di Ponorogo dan dari daerah manapun untuk menjadi jujukan membaca atau aktivitas terkait dengan literasi dan sastra.