"Perlu perbaikan utama sedimentasi sungai, agar tidak menyumbat dan bisa dikeruk, dinormalisasi, sehingga tidak mengakibatkan terjadinya penumpukan sedimentasi," katanya.
Risiko bencana juga menjadi pertimbangan dalam pembangunan kembali fasilitas pendidikan. Sebanyak 97 titik sekolah memerlukan relokasi karena lahannya hilang, terdampak longsor atau banjir, maupun berada di kawasan rawan.
Satgas PRR akan mengoordinasikan pengadaan tanah dengan pemerintah daerah agar pembangunan dapat dilakukan di lokasi yang lebih aman. Pemulihan sekolah turut memerlukan perbaikan jalan agar siswa dan guru dapat menjangkau tempat belajar.
"Juga akses jalan menuju sekolah itu, ini juga perlu diperbaiki. Ini kami koordinasikan nanti dengan Kementerian PU, titik-titiknya di mana saja," ujar Tito.
"Demikianlah kira-kira tantangannya yang tidak ringan karena ini bukan bencana kemudian selesai, tapi bencana ada lagi bencana-bencana susulan di tempat, di lokasi yang kadang-kadang sama tempatnya. Tapi semua bekerja keras, tapi inilah salah satu hambatan, salah satu kendala yang perlu kita tangani," pungkas Tito.