NADIKABAR.COM — Bayangkan dua anak muda duduk bersebelahan di MRT yang sama. Di layar yang satu, Indonesia terlihat sedang melaju: proyek diresmikan, prestasi dirayakan, masa depan dijanjikan. Di layar sebelahnya, Indonesia tampak sedang kelelahan: pelamar kerja mengantre, keluarga menghitung biaya hidup, warga mengeluhkan gangguan asap karhutla. Mereka turun di stasiun yang sama, tetapi mungkin membawa pulang dua negeri yang berbeda.
Jika setiap hari kita menerima potongan Indonesia yang berlainan, apa yang masih membuat kita merasa sedang menjalani kehidupan bersama?
Pada 28 Oktober, kita kembali mengenang keberanian pemuda membayangkan sebuah bangsa. Tema peringatan tahun ini, “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, menyampaikan harapan yang patut dirawat. Namun, sebelum meminta mereka mencintai negeri, bertahan menghadapi kesulitan, dan peduli kepada sesama, kita perlu bertanya: Indonesia seperti apa yang kita perkenalkan kepada mereka?
Indonesia terlalu luas untuk dialami sendiri. Seorang mahasiswa di Bandung tidak mungkin menyaksikan langsung seluruh kehidupan nelayan di Maluku, buruh di Morowali, atau keluarga petani di Nusa Tenggara Timur. Ia membutuhkan perantara. Pers menjalankan sebagian pekerjaan itu: membawa kehidupan yang jauh menjadi cukup dekat untuk dipahami dan dipedulikan.