Namun, jalan menuju informasi telah berubah. Digital News Report 2026 dari Reuters Institute mencatat, 48 persen responden di Indonesia menjadikan media sosial dan jaringan video sebagai sumber utama berita, naik delapan poin persentase dari tahun sebelumnya. Angka survei daring ini menggambarkan perilaku responden yang terhubung ke internet, bukan seluruh penduduk Indonesia. Meski demikian, pergeseran pintu masuk informasi terlihat jelas.
Berita kini hadir di layar yang sama dengan iklan sepatu, video kelucuan, kemarahan politik, dan nasihat investasi. Semua berebut perhatian. Peristiwa yang menentukan hidup ribuan orang dapat terlewat karena penyajiannya kurang menarik. Sebaliknya, ucapan sepotong memenuhi percakapan berhari-hari karena mengundang pertengkaran. Nilai penting suatu perkara harus bertarung dengan daya tariknya.
Pada kelompok muda, perubahan itu lebih kentara. Dalam laporan yang sama, 52 persen responden berusia 18–24 tahun di seluruh pasar yang disurvei menyebut media sosial, jaringan video, dan chatbot AI sebagai jalur utama memperoleh berita. Ini angka lintas negara, bukan angka khusus pemuda Indonesia. Namun, temuan tersebut memperlihatkan tantangan bagi redaksi: menerbitkan berita tidak serta-merta berarti berhasil menjangkau generasi muda.