Sistem rekomendasi memilih materi berdasarkan beragam sinyal, termasuk perilaku pengguna. Pilihan kita ikut membentuk apa yang muncul berikutnya. Namun, ruang pilihan itu juga disusun perusahaan yang mempunyai kepentingan bisnis. Kita bergerak dalam hubungan timbal balik yang tidak sepenuhnya dipahami, dengan kendali yang tidak seimbang.
Tentu, perbedaan pandangan sudah ada sebelum media sosial. Orang yang hidup berkecukupan dan orang yang mencemaskan uang sewa memang mengalami Indonesia secara berbeda. Algoritma tidak menciptakan seluruh jurang tersebut. Namun, pengalaman digital dapat mempersempit kesempatan bertemu informasi yang mengganggu keyakinan sendiri, termasuk pengalaman warga yang selama ini tidak kita kenal.
Persatuan pun menghadapi persoalan yang lebih rumit daripada kekurangan slogan. Kita bisa mengucapkan ikrar yang sama sambil semakin sulit memahami alasan orang lain merasa kecewa atau marah. Keluhan dianggap kebencian. Keberhasilan dianggap propaganda. Orang berhenti memeriksa suatu pernyataan karena merasa sudah mengetahui kelompok mana yang diuntungkan olehnya.