NADIKABAR.COM β€” Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NadiKabar) - Terik matahari yang menyilaukan dan hembusan angin hangat di penghujung September menyapa siapa saja yang melintas di Desa Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Di bawah terik itu, deretan sepeda motor terparkir rapi di depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aeramo. Para pemiliknya tampak mengantre perawatan hingga obat di dalam tenda-tenda darurat.

​Tenda yang berdiri di lapangan ini menggantikan fungsi bangunan RSUD Aeramo yang terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores lebih dari empat pekan lalu.

Langkah ini diambil karena bangunan utama satu-satunya rumah sakit di Kabupaten Nagekeo tersebut mengalami kerusakan cukup parah imbas gempa bumi pada pertengahan Agustus lalu, sehingga dinilai tidak aman jika tetap digunakan untuk melayani pasien dan melakukan tindakan medis.

Berbagai bentuk pelayanan kesehatan pun mau tidak mau dialihkan ke area di luar gedung rumah sakit per 19 Agustus 2026, atau empat hari setelah bencana gempa bumi.

Layanan-layanan medis di rumah sakit kemudian dilakukan dengan memanfaatkan tenda-tenda bantuan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga TNI-Polri.

Kepala Bidang Keperawatan dan Kebidanan RSUD Aeramo Martha Yunita, saat ditemui di lokasi, mengatakan bahwa seluruh pelayanan kesehatan di luar gedung meliputi pelayanan rawat jalan, rawat inap, Intensive Care Unit (ICU), Neonatal Intensive Care Unit (NICU), Instalasi Gawat Darurat (IGD), hingga kamar operasi.

Per 29 September 2026, tercatat terdapat 89 pasien rawat jalan dan 51 orang pasien rawat inap yang dirawat di 11 tenda darurat RSUD Aeramo.

Martha mengakui bahwa para tenaga medis dan pasien harus menghadapi kendala cuaca berupa angin kencang dan teriknya matahari yang sangat panas di musim kemarau.

β€œAwalnya sangat sulit untuk beradaptasi dari dalam gedung ke luar gedung. Tapi dengan bantuan berbagai macam pihak, dari Kemenkes, dari BNPB, dari daerah, semuanya sangat cepat, dari TNI-Polri, memberikan bantuan sehingga kami semua bisa memberikan pelayanan kepada pasien di dalam tenda,” kata Martha.

Ia menyoroti utamanya tenda operasi, ICU, ruang persalinan, ruang nifas dan pascapersalinan, yang membutuhkan kondisi steril, menjadi situasi yang sangat menantang saat tindakan medis harus berpindah ke tenda darurat.

β€œMemang kurang kondusif di sini pelayanan kami. Tempat tidurnya berkurang, sangat tidak nyaman dengan kondisi yang panas. Kita yang sehat saja susah, apalagi pasien yang post-operasi,” ujar Martha, sembari menunjukkan sekilas kondisi tenda operasi.