Mereka akan pergi ke mana pun tempat yang aman dan memiliki sumber makanan serta air. Lokasi ini disebut dengan habitat sementara.
Habitat sementara yang dimaksud Mustari adalah hutan sekunder dan kawasan yang berbatasan dengan perkebunan dan permukiman. Ketika hal ini terjadi konflik tim redaksi satwa dan manusia bisa timbul, ujungnya hewan akan kembali jadi korban.
"Pada akhirnya satwalah yang selalu menjadi korban dan disalahkan. Padahal, keluarnya satwa dari habitatnya terjadi karena habitatnya dirusak dan dibakar oleh manusia," bebernya.
Mustari mengungkap karhutla di Kalimantan dan Sumatera tak lepas dari aktivitas manusia, baik oleh korporasi maupun perorangan. Ia berpendapat karhutla terjadi bukan karena terbakar, melainkan dibakar.
"Pola kebakaran tersebut berulang setiap tahun, sementara upaya pencegahan cenderung belum dilakukan secara optimal. Respons pemerintah dan masyarakat sering kali baru menguat ketika kebakaran telah meluas sehingga penanganannya menjadi lebih sulit dan dampaknya semakin besar," jelasnya.