Dalam kampanyenya, Lula berjanji melanjutkan agenda Partai Pekerja yang berhaluan kiri, termasuk program kesejahteraan sosial, pembangunan yang didanai negara, serta redistribusi pendapatan.

"Rakyat harus memilih antara memperkuat rezim demokrasi dan barbarisme ... antara kemajuan dan keterbelakangan," katanya saat memberikan suaranya pada Minggu (04/10).

Flavio Bolsonaro, 45 tahun, telah menjabat sebagai senator dari Partai Liberal mewakili Rio de Janeiro sejak 2019. Pada Sabtu (03/10), ia memimpin iring-iringan sepeda motor melintasi Santa Barbara d'Oeste dan Americana, dua kota di negara bagian So Paulo.

Dalam iring-iringan itu, Bolsonaro juga mengangkat potret ayahnya di hadapan kerumunan pendukung yang meneriakkan "mito", kata dalam bahasa Portugis yang berarti "legenda" dan menjadi julukan Jair Bolsonaro di kalangan pendukungnya.

Dalam kampanyenya, Bolsonaro yang berhaluan kanan mengusung kebijakan keamanan garis keras dan pemotongan pajak. Ia juga menyoroti tingginya biaya hidup di bawah pemerintahan Lula, yang ia sebut "tidak kompeten."

"Brasil membutuhkan perubahan," kata putra mantan presiden itu saat memberikan suaranya. "Brasil tidak bisa lagi menanggung penderitaan, seperti pajak yang tinggi, begitu banyak perempuan yang dibunuh."

Menanggapi hasil pemilu, Alvaro Senra (65), profesor sejarah sekaligus pendukung Lula di Rio de Janeiro, mengaku merasa "tenang, tetapi sangat sedih." Ia mengikuti penghitungan suara bersama teman-temannya di sebuah bar.

"Saya rasa ini adalah hasil dari upaya kaum konservatif yang bekerja secara diam-diam, termasuk melalui gereja-gereja neo-Pentakosta. Namun, saya yakin Lula masih bisa menang," katanya.

Selain itu, Maria Ribeiro, penjual ponsel berusia 50 tahun asal Braslia, mengatakan memilih putra sulung Bolsonaro karena menginginkan kebebasan untuk mengekspresikan keyakinan evangelisnya. Ia berharap Bolsonaro mengikuti jejak ayahnya.

"Saya memilih ayahnya dan saya tidak menyesalinya," katanya.

Namun, kedekatan Bolsonaro dengan ayahnya justru membuat Lorena Zschaber, fotografer berusia 40 tahun, khawatir. Ia mengikuti hasil pemilu dari sebuah bar ramah LGBTQ+ di pusat Kota Rio de Janeiro. Menurutnya, selama Jair Bolsonaro menjabat sebagai presiden, "orang-orang merasa lebih leluasa untuk melakukan diskriminasi."

"Saya seorang perempuan LGBTQ+, saya tidak bisa membayangkan hal yang lebih buruk daripada Flvio Bolsonaro terpilih," tambahnya.

Sementara itu, Rosngela Resende da Rocha, perempuan berusia 69 tahun yang sebelumnya merupakan ibu rumah tangga, mengatakan mendukung kebijakan sosial Lula yang membantu "mereka yang kurang beruntung," serta sikapnya yang berani melawan Trump.