Kedekatannya dengan dunia tulis-menulis, menurut SBY, telah tumbuh sejak bangku sekolah dasar. Ketika duduk di kelas lima, ia sudah menulis cerita pendek dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia.
Menulis novel merupakan kelanjutan dari kegemaran yang telah lama menjadi bagian dari hidupnya. Bagi SBY, novel memberikan kebebasan untuk membangun alur, menghadirkan tokoh dengan beragam karakter, serta mempertemukan kenyataan dengan imajinasi.
"Saya merasa punya kebebasan untuk menggambarkan apa saja," kata SBY.
Dalam 'Diana Memang Manja', kebebasan itu digunakan untuk merangkai kisah romansa dengan misteri dan pergulatan perasaan manusia. SBY mengakui sebagian perasaan yang pernah dialaminya setelah kehilangan sang istri turut menjadi bahan dalam proses penulisan.
"Sebagian saya curahkan novel itu untuk mengekspresikan hati saya sekian tahun yang lalu. Tetapi sekarang saya lebih kuat," ungkap SBY.
Ketika ditanya mengenai pertemuan pengalaman nyata dan fiksi dalam novel tersebut, SBY menjelaskan imajinasi tetap ia bangun melalui riset dan pertimbangan yang cermat. Ia ingin menceritakan yang dihadirkan memiliki pijakan yang masuk akal, sekaligus memberi ruang bagi misteri dan keajaiban dalam kehidupan.
Proses kreatif itu juga terus berkembang selama penulisan. Dari alur yang telah disiapkan, muncul gagasan-gagasan baru yang memperkaya cerita dan memperdalam hubungan antartokoh.
Perbincangan mengenai novel kemudian membawa SBY pada pesan yang lebih luas, khususnya bagi generasi muda, keberanian untuk memulai dan kesungguhan dalam menjalani pilihan.