Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pembangunan Sosial Tina Talisa menyebut persoalan panas bumi hari ini lebih banyak berada di wilayah pemahaman. Ketika izin panas bumi diserahkan pemerintah, yang menguat di media sosial justru suara penolakan, sebagian besar dari akun nonpers.
Daftar ketakutannya panjang: krisis air, gempa, gunung meletus, hutan gundul, reservoir habis, limbah, gas beracun, hingga pipa-pipa besar yang dianggap seram. Sebagian, menurut Tina, adalah miskonsepsi yang perlu dijawab ilmuwan dengan bahasa yang bisa dipahami warga.
Kekhawatiran paling sering dalam penolakan pembangunan PLTP adalah bakal keringnya air sumur.
Guru Besar Geologi ITB Prof Lambok Hutasoit menjelaskan bahwa air tanah yang dipakai masyarakat berada di lapisan akuifer dekat permukaan, kira-kira hingga kedalaman 300 meter. Sementara, fluida panas bumi tersimpan di reservoir yang jauh lebih dalam, dan keduanya biasanya dipisahkan lapisan batuan penudung yang tidak tembus air.
Konstruksi sumur dibuat untuk menjaga pemisahan itu. Di Kamojang, sumur produksi menembus kedalaman 1.500 hingga 2.500 meter.