Bagian atasnya dilapisi pipa pejal yang disemen, justru agar air tanah yang dingin tidak masuk, sebab air dingin menurunkan suhu fluida dan merugikan turbin. Lubangnya pun tidak sebesar bayangan orang, paling lebar sekitar 30 inci atau 75 sentimeter di bagian atas, lalu mengecil ke bawah.

Sumber fluida reservoir adalah air hujan yang meresap ke bumi yang terserap dalam waktu puluhan tahun.

Setelah memutar turbin, uap didinginkan di menara pendingin lalu diinjeksikan kembali melalui sumur injeksi yang sedalam sumur produksi. Siklus tertutup ini yang membuat sumber uap pembangkit listrik di Kamojang bertahan lama.

Kamojang kini mengelola 98 sumur, terdiri atas 64 sumur produksi, sembilan sumur injeksi, 16 sumur pemantauan, dan sembilan sumur yang tidak lagi dipakai. Lumpur dan serpih pemboran ditampung di kolam, sebagian diinjeksikan kembali, sebagian diolah menjadi bahan bangunan.

Karena reservoir bergantung pada resapan hujan, pengembang punya kepentingan langsung menjaga hutan di atasnya. Prof Lambok bersama timnya memetakan daerah resapan di lapangan tetangga, Wayang Windu, pada elevasi sekitar 1.300 sampai 1.600 meter, dan hasilnya sudah diserahkan ke pemerintah daerah untuk dilindungi.