NADIKABAR.COM — Senin, 19 Oktober 2026, ratusan warga dari berbagai daerah memenuhi halaman Kantor DPRD Kabupaten Semarang di Ungaran. Mereka menolak rencana pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Gunung Ungaran dan Gunung Telomoyo.
Mereka juga meminta eksplorasi panas bumi di seluruh Indonesia dihentikan .
Tiga hari sebelumnya, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat meminta rencana serupa di kawasan Gedongsongo dan Sepakung dikaji ulang karena khawatir pada mata air, pertanian, dan pariwisata.
Di Tasikmalaya, kalangan budayawan menyuarakan penolakan atas wacana pengembangan panas bumi di Gunung Galunggung.
Di perbukitan perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut, lima unit PLTP Kamojang tetap memutar turbin dengan uap dari perut bumi. Unit pertamanya beroperasi sejak 1983. Sumur pertamanya, KMJ-3, dibor pemerintah kolonial Belanda pada 1926 dan hingga kini masih menyemburkan uap.
Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pembangunan Sosial Tina Talisa menyebut persoalan panas bumi hari ini lebih banyak berada di wilayah pemahaman. Ketika izin panas bumi diserahkan pemerintah, yang menguat di media sosial justru suara penolakan, sebagian besar dari akun nonpers.
Daftar ketakutannya panjang: krisis air, gempa, gunung meletus, hutan gundul, reservoir habis, limbah, gas beracun, hingga pipa-pipa besar yang dianggap seram. Sebagian, menurut Tina, adalah miskonsepsi yang perlu dijawab ilmuwan dengan bahasa yang bisa dipahami warga.
Kekhawatiran paling sering dalam penolakan pembangunan PLTP adalah bakal keringnya air sumur.
Guru Besar Geologi ITB Prof Lambok Hutasoit menjelaskan bahwa air tanah yang dipakai masyarakat berada di lapisan akuifer dekat permukaan, kira-kira hingga kedalaman 300 meter. Sementara, fluida panas bumi tersimpan di reservoir yang jauh lebih dalam, dan keduanya biasanya dipisahkan lapisan batuan penudung yang tidak tembus air.
Konstruksi sumur dibuat untuk menjaga pemisahan itu. Di Kamojang, sumur produksi menembus kedalaman 1.500 hingga 2.500 meter.
Bagian atasnya dilapisi pipa pejal yang disemen, justru agar air tanah yang dingin tidak masuk, sebab air dingin menurunkan suhu fluida dan merugikan turbin. Lubangnya pun tidak sebesar bayangan orang, paling lebar sekitar 30 inci atau 75 sentimeter di bagian atas, lalu mengecil ke bawah.
Sumber fluida reservoir adalah air hujan yang meresap ke bumi yang terserap dalam waktu puluhan tahun.
Setelah memutar turbin, uap didinginkan di menara pendingin lalu diinjeksikan kembali melalui sumur injeksi yang sedalam sumur produksi. Siklus tertutup ini yang membuat sumber uap pembangkit listrik di Kamojang bertahan lama.
Kamojang kini mengelola 98 sumur, terdiri atas 64 sumur produksi, sembilan sumur injeksi, 16 sumur pemantauan, dan sembilan sumur yang tidak lagi dipakai. Lumpur dan serpih pemboran ditampung di kolam, sebagian diinjeksikan kembali, sebagian diolah menjadi bahan bangunan.
Karena reservoir bergantung pada resapan hujan, pengembang punya kepentingan langsung menjaga hutan di atasnya. Prof Lambok bersama timnya memetakan daerah resapan di lapangan tetangga, Wayang Windu, pada elevasi sekitar 1.300 sampai 1.600 meter, dan hasilnya sudah diserahkan ke pemerintah daerah untuk dilindungi.