“GGGI akan terus menjembatani pemerintah dan sektor swasta, serta memadukan kebijakan, teknologi, dan investasi agar pengalaman di Bali dapat berkembang menjadi model elektrifikasi transportasi publik yang dapat diterapkan di wilayah lain di Indonesia,” lanjutnya.

Sebelas bus listrik tersebut akan melayani Koridor 1 Trans Sarbagita pada rute pulang pergi sepanjang 53 kilometer dengan 56 halte, menghubungkan GOR Ngurah Rai dan Garuda Wisnu Kencana (GWK) melalui Universitas Udayana. Satu unit dirancang untuk mengakomodasi pengguna kursi roda sebagai bagian dari upaya menghadirkan layanan yang lebih inklusif. Sasis bus diproduksi di Korea Selatan, sementara bodi dan interiornya diselesaikan di Indonesia oleh karoseri Laksana.

Kolaborasi ini menunjukkan peluang kerja sama lintas negara sekaligus peran pelaku industri dalam negeri dalam mendukung pengembangan mobilitas listrik. Proyek ini juga dilengkapi enam unit pengisi daya cepat Chaevi berkapasitas 100 kW di dua lokasi. Tiga unit ditempatkan di depo Dinas Perhubungan Provinsi Bali untuk pengisian pada malam hari dan tiga unit di GOR Ngurah Rai untuk mendukung operasional harian. Sistem Manajemen Armada (Fleet Management System/FMS) digunakan untuk mendukung pengoperasian bus dan fasilitas pengisian daya.

Masyarakat diajak mengambil bagian dalam perubahan ini dengan menggunakan transportasi publik, merencanakan perjalanan secara lebih efisien, serta memilih moda transportasi yang lebih ramah lingkungan. Setiap perjalanan dengan transportasi umum yang layak dan andal merupakan langkah bersama untuk mengurangi emisi, menjaga kualitas udara, dan mewariskan Bali yang lebih lestari kepada generasi mendatang.