Bagi Misman, Ketua GMSS-SKM Samarinda, pagi itu bukan sekadar seremoni. Sambil duduk di tepi sungai memandang para peserta, di benaknya terhampar kenangan akan perjalanan panjang yang tak mudah. Sebelas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk konsisten menjaga sungai, terlebih di tengah ketidakpedulian sebagian masyarakat.

"Banyak liku yang kami lalui," ucapnya tenang. Perjuangan itu diisi dengan memungut sampah setiap pekan, menyapa warga, hingga mengedukasi bahwa sungai adalah sumber kehidupan, bukan tempat pembuangan.

Ada satu kenangan yang tak pernah ia lupakan. Suatu hari saat sedang memungut sampah di tepian, seseorang tiba-tiba melempar sampah tepat di hadapannya. Alih-alih menegur dengan amarah, Misman memilih diam. Ia mengambil sampah itu lalu membawanya ke tempat pembuangan tanpa mengucap sepatah kata pun.

"Saya sengaja tidak menegurnya," kenang Misman. "Saya biarkan saja. Saya berharap orang itu merasa tersindir, menyadari kesalahannya, dan tidak mengulanginya lagi."