NADIKABAR.COM — Sebelum peluit terakhir wasit, sepak bola selalu menyisakan kemungkinan. Kamis malam, 1 Oktober 2026, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), kemungkinan itu menjelma menjadi sembilan gol, di mana kecemasan dan kegembiraan datang nyaris bersamaan.

Indonesia mengalahkan Bangladesh 9-2 dan merebut tiket final FIFA ASEAN Cup. Namun, siapa yang mengikuti pertandingannya tahu: ini bukan pesta yang sejak awal bisa dinikmati secara relaks berleha-leha. Tidak.

Ada saat ketika kemenangan besar pun terasa tidak cukup. Dari tribun hingga ruang-ruang teve keluarga, dari layar televisi, nobar hingga telepon genggam, publik mengikuti pertandingan yang meminta satu hal paling gregetan: tetap percaya padahal waktu hampir habis.

Pada jam yang sama, Malaysia menghadapi Singapura di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung. Di mata saya, suasananya terasa berbeda: pertandingan yang semestinya sarat tekanan justru tampak jauh lebih longgar.

Padahal, Singapura masih punya kepentingan nyata. Kemenangan akan membawanya melampaui Malaysia dan membuka jalan ke pertandingan perebutan tempat ketiga. Ada kesempatan berprestasi, rivalitas bertetangga, dan martabat tim nasional yang dipertaruhkan.

Karena itu, kekalahan 0–6 mengusik saya. Bagaimana pertahanan Singapura yang dikenal kokoh tapi kok bisa begitu mudah ditembus dalam pertandingan sepenting ini? Pertanyaan itu pantas diajukan, meskipun kesan seorang penonton belum merupakan bukti pengaturan pertandingan. Saya tidak bilang sepak bola gajah. Apalagi main sabun. Tidak. Saya hanya curiga, boleh dong..

Keraguan tersebut mempunyai pembanding konkret. Pada 8 Agustus, Singapura menahan Indonesia 1-1 sekaligus menyingkirkan Garuda dari ASEAN Hyundai Cup. Sepuluh hari kemudian, mereka bahkan menang 2-1 atas Thailand di Bangkok pada leg kedua semifinal, meskipun tetap tersingkir dengan agregat 3-4.

Tim yang belum lama menunjukkan ketahanan seperti itu kini kebobolan enam kali tanpa balasan. Perubahan tersebut layak dijelaskan: apakah karena mutu lawan, komposisi pemain, kelelahan, keputusan taktis, atau runtuhnya mental setelah tertinggal?

Bagi saya, federasi tidak cukup hanya mengatakan "itulah sepak bola". Namun, menyebutnya "main sabun" atau "sepak bola gajah" sebagai kesimpulan juga membutuhkan bukti yang belum tersedia.

Laporan pertandingan yang dimuat Malay Mail mencatat Singapura sempat mengancam melalui Song Ui-young pada menit ke-14 dan Kyoga Nakamura enam menit kemudian; keduanya digagalkan penjaga gawang Malaysia. Penalti pembuka juga melibatkan pemeriksaan VAR, bantuan video bagi wasit.

Jadi, mengatakan Singapura sama sekali tidak melawan atau pertandingan sepenuhnya tanpa ketegangan, bagi orang Malaysia, tuduhan itu lebai. Skor besar tidak otomatis berarti curang, sebagaimana pertandingan keras tidak otomatis menjamin fair play (permainan jujur dan sportif). Ukurannya ialah kesungguhan bertanding dan kepatuhan pada aturan, bukan banyaknya benturan atau pertengkaran.