Oleh karena itu, BNPB dan lembaga terkait kini mulai mencoba menggunakan metode penyemaian dry ice.

Berbeda dengan penyemaian awan yang bertujuan meningkatkan peluang turunnya hujan pada awan yang memenuhi persyaratan, penggunaan dry ice dalam konteks ini diarahkan untuk menguji kemungkinan terjadinya perubahan kondisi termal pada lapisan inversi.

Ia menjelaskan, dry ice memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Ketika dilepaskan ke atmosfer, bahan tersebut mengalami subliminasi, yakni perubahan dari fase padat menjadi gas, sambil menyerap panas dari lingkungan sekitarnya.

Secara konseptual, pendinginan lokal yang terjadi diharapkan dapat memengaruhi perbedaan suhu dan kerapatan udara, memicu pergerakan udara setempat, serta meningkatkan peluang pencampuran udara secara vertikal.

Pendinginan lokal yang terjadi ini diharapkan dapat memengaruhi perbedaan suhu dan kerapatan udara, memicu pergerakan udara setempat, serta meningkatkan peluang pencampuran udara secara vertikal.

Jika perubahan tersebut cukup besar dan kondisi atmosfer mendukung, lapisan inversi berpotensi melemah, sehingga udara dapat bergerak lebih bebas dan pertumbuhan awan berpeluang untuk berkembang.

"Penggunaan es kering diharapkan dapat menimbulkan pendinginan lokal dan memengaruhi kestabilan udara pada lapisan inversi. Namun, mekanisme ini masih merupakan hipotesis ilmiah. Kita harus menguji apakah perubahan yang dihasilkan benar-benar cukup untuk melemahkan inversi dan mendukung pertumbuhan awan," jelas Heru.