Sementara, uji tuntas dari sisi keuangan berguna untuk memastikan opsi paling optimal dalam akuisisi bisnis seperti menentukan apakah perlu mengambil alih secara langsung atau sekadar menyewa aset.
Evaluasi ini juga mencakup perhitungan indikator finansial utama seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan payback period.
Uji tuntas komersial juga diperlukan guna memastikan segmen produk dan pelanggan yang paling tepat untuk dilayani, terutama dalam menghadapi persaingan dengan produk murah dari China maupun penetrasi ke pasar global.
Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan memandang ada berbagai risiko besar yang akan menjadi beban Danantara jika bersikeras mengambil alih Sritex.
Secara finansial, Danantara memiliki kapasitas memadai untuk menangani utang menggunung Sritex. Namun, menurut dia, risiko yang ditanggung jauh lebih besar.
"Sebaiknya dipertimbangkan ulang untuk mengambil Sritex. Tidak rasional jika Danantara memilih untuk menghidupkan kembali Sritex," ujar Herry kepada NadiKabar.com, Selasa (27/10).
Ia merinci sejumlah beban berat tersebut di antaranya kondisi aset yang bermasalah karena tersangkut kasus hukum. Ada aset yang disita aparat penegak hukum maupun yang harus dilelang untuk membayar kewajiban. Ini akan menjadi beban baru bagi Danantara.
Berikutnya, persoalan reputasi Sritex yang saat ini berada di titik terendah. Upaya membangun kembali reputasi dan kepercayaan pasar akan membutuhkan waktu serta biaya mahal.
Masalah lainnya, kualitas aset yang kian menurun. Mesin-mesin pabrik Sritex berhenti beroperasi sekitar dua tahun, sehingga membutuhkan alokasi dana pemeliharaan besar untuk dapat digunakan kembali.