Tradisi yang menggabungkan kue, lilin, dan anak yang berulang tahun umumnya ditelusuri ke Jerman pada abad ke-18 melalui perayaan anak-anak yang dikenal sebagai Kinderfest.
Dalam tradisi tersebut, ulang tahun anak tidak sekadar menjadi perayaan, tetapi juga berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan moral.
Lilin kemudian memperoleh makna simbolis. Satu lilin dinyalakan untuk setiap tahun usia anak, ditambah satu lilin ekstra sebagai simbol harapan agar anak tersebut dapat bertambah usia.
"Lilin sudah memiliki makna kehidupan, kue sudah menjadi simbol perayaan, sementara anak merepresentasikan potensi," kata Nicola yang meneliti sejarah ritual sosial manusia, termasuk ulang tahun.
Salah satu jejak yang dapat ditemukan mengenai penggunaan lilin di kue ulang tahun adalah pada 1740-an. Jejak ini didapat dari buku harian seorang penulis Johann Wolfgang von Goethe yang menggambarkan kue ulang tahun yang dikelilingi oleh lampu-lampu layaknya di altar.
Satu abad kemudian, tepatnya pada 1881, tradisi ulang tahun ini menyebar ke Swiss. Berdasarkan tulisan di Folk-lore Journal, yang mendokumentasikan adanya tradisi menggunakan lilin di atas sebuah kue dan ditiup sebelum dimakan pada kalangan menengah di sana.
Konadu menyebutkan catatan paling awal yang tertulis mengenai ritual "mengucapkan harapan dan meniup lilin" baru muncul pada akhir abad ke-19. Meskipun muncul di Swiss, Konadu percaya ritual ini "dipinjam" dari tradisi Jerman yang membakar lilin sepanjang hari dengan tujuan perlindungan spiritual bagi anak yang sedang ulang tahun.
Setelah tradisi Kinderfest berkembang di Jerman, kebiasaan tersebut perlahan menyeberangi Samudra Atlantik. Peran penting dalam penyebarannya dimainkan oleh imigran Jerman yang membawa tradisi tersebut ke Amerika Serikat pada abad ke-19.
"Kemudian pada awal hingga pertengahan abad ke-20, budaya populer serta media pascaperang di AS memperluas praktik dan komersialisasinya hingga mendunia," ujar Konadu
Pengumuman mengenai Kinderfest bahkan muncul di surat kabar berbahasa Jerman di sejumlah kota Amerika, seperti Philadelphia dan Milwaukee, sepanjang 1800-an. Catatan tersebut menjadi salah satu petunjuk bagi sejarawan untuk melacak bagaimana tradisi tersebut perlahan masuk ke kehidupan masyarakat Amerika.