Memasuki periode 1900-1920, lilin di atas kue sudah menjadi kebiasaan yang cukup umum di kalangan kelas menengah AS dan Inggris.
Pada dekade 1920-an, tradisi tersebut bahkan mulai menjadi bagian dari industri ritel. Lilin ulang tahun diproduksi secara massal dan dijual dalam berbagai set sesuai usia, lengkap dengan tempat lilin kecil. Toko-toko serba ada turut menjual perlengkapan tersebut sehingga ritual ulang tahun semakin mudah dilakukan oleh keluarga.
Salah satu titik penting dalam perjalanan tradisi tersebut terjadi pada 1931, ketika Disney merilis film pendek yang menampilkan pesta ulang tahun.Film tersebut ikut membentuk gambaran mengenai bagaimana sebuah pesta ulang tahun seharusnya berlangsung: kue, lilin, lagu ulang tahun, kemudian membuat permohonan.
Tanpa disadari, pola tersebut kemudian ditiru oleh jutaan keluarga sepanjang abad ke-20. Setelah Perang Dunia II, budaya konsumen AS ikut membawa tradisi tersebut ke berbagai belahan dunia. Penyebarannya didorong oleh film dan media anak-anak, pariwisata, serta berbagai merek yang menjual perlengkapan pesta.
Akibatnya, ritual yang awalnya berkembang dari tradisi Jerman tersebut perlahan menjadi kebiasaan global.
Meskipun praktiknya saat ini sudah umum di berbagai kalangan, bukan berarti semua orang wajib merayakan ulang tahun dengan mengutarakan harapannya dan meniup lilin.
Orang-orang Ghana merayakan ulang tahun dengan menyantap hidangan ubi jalar yang disebut dengan oto di pagi hari. Sementara di Rusia, orang-orang terkadang mengganti kue dengan kue pai yang dipersonalisasi untuk ulang tahun.
Adapun di China bahkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan kue atau lilin, biasanya dirayakan dengan semangkuk 'mie panjang umur' yang dalam pembuatannya adonan sama sekali tidak dipotong.
Seorang sejarawan budaya populer, Marie Nicola, mengatakan "budaya populer tidak menciptakan ritual, melainkan manusia. Manusia menghasilkan ritual dari jejak berabad-abad yang lalu melalui perayaan dan perilaku ritualistik yang bertahap,".
Artinya, budaya populer hanya membantu membuat ritual tersebut menjadi sebuah standar yang diamini masyarakat luas. Ia juga menyebutkan bahwa, "kita (manusia) tidak perlu diajari apapun, karena kita sudah tahu bagaimana cara kerjanya," seperti dikutip dari Reader's Digest.