NADIKABAR.COM — Ulang tahun merupakan momen yang spesial dan hanya dirayakan sekali dalam satu tahun. Cara merayakannya pun beragam, salah satu yang paling sering ditemui adalah dengan menggunakan kue dan lilin yang ditiup.

Untuk memahami asal-usul lilin ulang tahun, kita perlu melihat jauh ke belakang, ketika api memiliki makna sakral dalam berbagai kebudayaan.

Dari dunia Weda hingga Persia, Yunani, dan Romawi, api sering dipandang sebagai simbol atau perwujudan kehadiran ilahi. Api digunakan dalam altar dan berbagai upacara untuk menghubungkan manusia dengan sesuatu yang dianggap lebih tinggi.

Dari sinilah muncul salah satu teori paling populer mengenai asal-usul lilin ulang tahun. Teori tersebut mengaitkannya dengan Yunani kuno.

Konon, masyarakat Yunani membuat kue berbahan keju yang menyerupai ricotta, tepung, dan madu bernama amphiphons. Kue itu disebut dipersembahkan kepada Artemis, dewi Bulan, dengan obor yang dinyalakan di atasnya untuk menyerupai cahaya bulan.

Cerita tersebut memang menarik dan sering muncul dalam berbagai sumber populer. Namun, belum ditemukan bukti sejarah yang secara langsung menghubungkan kue tersebut dengan tradisi ulang tahun modern.

"Gagasan populer bahwa ini dimulai di Yunani atau Roma kuno tidak memiliki dukungan dalam catatan sejarah dan karenanya tetap menjadi cerita rakyat,"ujar sejarawan Kwasi Konadu, PhD dari Colgate University, seperti dikutip dari Reader Digest.

Adapun sejarawan budaya populer Marie Nicola juga menganggap hubungan tersebut masuk akal, tetapi belum dapat dibuktikan berdasarkan bukti sejarah yang tersedia.

Kue baru kembali digunakan sebagai makanan perayaan nonkeagamaan pada akhir Abad Pertengahan, terutama di kalangan keluarga kaya. Pada 1691, seorang sarjana bernama Johann Christoph Wagenseil mencatat keberadaan kue ulang tahun untuk anak-anak dalam tulisannya mengenai kota Nuremberg di Jerman.

Saat itu belum ada lilin di atas kue. Namun, catatan tersebut dianggap sebagai salah satu referensi paling awal mengenai keberadaan kue yang secara khusus digunakan untuk merayakan ulang tahun.

Tradisi yang menggabungkan kue, lilin, dan anak yang berulang tahun umumnya ditelusuri ke Jerman pada abad ke-18 melalui perayaan anak-anak yang dikenal sebagai Kinderfest.

Dalam tradisi tersebut, ulang tahun anak tidak sekadar menjadi perayaan, tetapi juga berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan moral.

Lilin kemudian memperoleh makna simbolis. Satu lilin dinyalakan untuk setiap tahun usia anak, ditambah satu lilin ekstra sebagai simbol harapan agar anak tersebut dapat bertambah usia.

"Lilin sudah memiliki makna kehidupan, kue sudah menjadi simbol perayaan, sementara anak merepresentasikan potensi," kata Nicola yang meneliti sejarah ritual sosial manusia, termasuk ulang tahun.

Salah satu jejak yang dapat ditemukan mengenai penggunaan lilin di kue ulang tahun adalah pada 1740-an. Jejak ini didapat dari buku harian seorang penulis Johann Wolfgang von Goethe yang menggambarkan kue ulang tahun yang dikelilingi oleh lampu-lampu layaknya di altar.

Satu abad kemudian, tepatnya pada 1881, tradisi ulang tahun ini menyebar ke Swiss. Berdasarkan tulisan di Folk-lore Journal, yang mendokumentasikan adanya tradisi menggunakan lilin di atas sebuah kue dan ditiup sebelum dimakan pada kalangan menengah di sana.

Konadu menyebutkan catatan paling awal yang tertulis mengenai ritual "mengucapkan harapan dan meniup lilin" baru muncul pada akhir abad ke-19. Meskipun muncul di Swiss, Konadu percaya ritual ini "dipinjam" dari tradisi Jerman yang membakar lilin sepanjang hari dengan tujuan perlindungan spiritual bagi anak yang sedang ulang tahun.

Setelah tradisi Kinderfest berkembang di Jerman, kebiasaan tersebut perlahan menyeberangi Samudra Atlantik. Peran penting dalam penyebarannya dimainkan oleh imigran Jerman yang membawa tradisi tersebut ke Amerika Serikat pada abad ke-19.

"Kemudian pada awal hingga pertengahan abad ke-20, budaya populer serta media pascaperang di AS memperluas praktik dan komersialisasinya hingga mendunia," ujar Konadu

Pengumuman mengenai Kinderfest bahkan muncul di surat kabar berbahasa Jerman di sejumlah kota Amerika, seperti Philadelphia dan Milwaukee, sepanjang 1800-an. Catatan tersebut menjadi salah satu petunjuk bagi sejarawan untuk melacak bagaimana tradisi tersebut perlahan masuk ke kehidupan masyarakat Amerika.

Memasuki periode 1900-1920, lilin di atas kue sudah menjadi kebiasaan yang cukup umum di kalangan kelas menengah AS dan Inggris.

Pada dekade 1920-an, tradisi tersebut bahkan mulai menjadi bagian dari industri ritel. Lilin ulang tahun diproduksi secara massal dan dijual dalam berbagai set sesuai usia, lengkap dengan tempat lilin kecil. Toko-toko serba ada turut menjual perlengkapan tersebut sehingga ritual ulang tahun semakin mudah dilakukan oleh keluarga.

Salah satu titik penting dalam perjalanan tradisi tersebut terjadi pada 1931, ketika Disney merilis film pendek yang menampilkan pesta ulang tahun.Film tersebut ikut membentuk gambaran mengenai bagaimana sebuah pesta ulang tahun seharusnya berlangsung: kue, lilin, lagu ulang tahun, kemudian membuat permohonan.

Tanpa disadari, pola tersebut kemudian ditiru oleh jutaan keluarga sepanjang abad ke-20. Setelah Perang Dunia II, budaya konsumen AS ikut membawa tradisi tersebut ke berbagai belahan dunia. Penyebarannya didorong oleh film dan media anak-anak, pariwisata, serta berbagai merek yang menjual perlengkapan pesta.

Akibatnya, ritual yang awalnya berkembang dari tradisi Jerman tersebut perlahan menjadi kebiasaan global.

Meskipun praktiknya saat ini sudah umum di berbagai kalangan, bukan berarti semua orang wajib merayakan ulang tahun dengan mengutarakan harapannya dan meniup lilin.

Orang-orang Ghana merayakan ulang tahun dengan menyantap hidangan ubi jalar yang disebut dengan oto di pagi hari. Sementara di Rusia, orang-orang terkadang mengganti kue dengan kue pai yang dipersonalisasi untuk ulang tahun.

Adapun di China bahkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan kue atau lilin, biasanya dirayakan dengan semangkuk 'mie panjang umur' yang dalam pembuatannya adonan sama sekali tidak dipotong.

Seorang sejarawan budaya populer, Marie Nicola, mengatakan "budaya populer tidak menciptakan ritual, melainkan manusia. Manusia menghasilkan ritual dari jejak berabad-abad yang lalu melalui perayaan dan perilaku ritualistik yang bertahap,".

Artinya, budaya populer hanya membantu membuat ritual tersebut menjadi sebuah standar yang diamini masyarakat luas. Ia juga menyebutkan bahwa, "kita (manusia) tidak perlu diajari apapun, karena kita sudah tahu bagaimana cara kerjanya," seperti dikutip dari Reader's Digest.