Arsip yang dilansir Reuters mencatat aksi tersebut kembali terlihat saat Netanyahu berpidato di Sidang Majelis Umum PBB pada 2024 dan 2025. Sejumlah delegasi meninggalkan ruang sidang sebagai bentuk protes.
Pada 2026, aksi saling walk out kembali terjadi. Delegasi Israel keluar saat Erdogan menyerukan pengakuan terhadap Negara Palestina. Delegasi Kuba meninggalkan ruangan ketika Trump menyebut Kuba sebagai "negara yang benar-benar gagal". Sementara delegasi AS walk out saat Pezeshkian mengkritik AS dalam pidatonya.
Freedman mengatakan penggunaan walk out dalam beberapa tahun terakhir terlihat semakin sering. Menurutnya, aksi tersebut tetap dipakai karena dapat menjadi simbol penolakan di hadapan komunitas internasional tanpa menghentikan sidang.
"Protes seperti ini akan terus berlanjut sampai dianggap tidak efektif. Setelah itu, bentuk protesnya kemungkinan akan bergeser ke cara lain," kata Freedman kepada Reuters.
Ia menambahkan, walk out tidak selalu berkaitan dengan konflik bersenjata. Dalam sejumlah kasus, aksi tersebut dilakukan karena suatu negara tidak memiliki hubungan diplomatik atau tidak mengakui keberadaan negara lain.
Rangkaian aksi tersebut menunjukkan bahwa meninggalkan ruang sidang telah lama menjadi bagian dari praktik diplomasi internasional. Maknanya bergantung pada konteks, pihak yang menjadi sasaran, dan isu yang sedang diperdebatkan.