Sempat jaya sebagai pabrik tapioka, usaha Hogwan kemudian berhenti akibat konflik sosial anti China pada menjelang tahun 1980-an. Demi menyelamatkan diri, Hogwan memboyong keluarganya eksodus dari Bumiayu ke luar negeri.
"Intinya berhenti karena ada konflik rasis anti-China. Keluarga lari ke luar negeri," terang dia.
Beberapa tahun kemudian, Hogwan kembali ke Bumiayu pada era 80-an. Mereka pun kembali meneruskan usaha yang sempat ditinggal selama eksodus.
Usaha Hogwan usai eksodus bahkan makin meroket. Usahanya kini merambah ke bioskop, pupuk, beras, rice nill, pakan ternak dan lainnya.
Pada 26 Juni 1992, pabrik tapioka ini berhenti karena Hogwan meninggal dunia di Jakarta. Bangunan bekas pabrik ini pun kemudian dijual dan dimanfaatkan sebagai tempat olahraga badminton.