"Orang Indonesia sangat kritis terhadap makanan lokal karena memiliki kenangan atau ikatan emosional dengan masakan keluarga seperti nenek atau ibu. Jadi penting banget untuk memahami resep dari sumber aslinya di berbagai daerah agar dapat menyajikan makanan yang autentik sekaligus memberikan sedikit sentuhan atau modifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada konsumen," katanya.

Sementara itu, ilustrator sekaligus pengisah makanan Nugraha Pratama mengatakan tantangan dalam menggambarkan makanan bukan hanya memvisualisasikan rasa, melainkan menangkap budaya di balik hidangan yang memiliki latar belakang sejarah panjang.

"Bagian tersulit bukan menggambarkan rasa, melainkan menangkap budaya di balik makanan tersebut karena memiliki latar belakang sejarah yang panjang dan mendalam," ucap dia.

Melalui goresan sketsa, ia terus berupaya membangun dokumentasi sejarah visual gastronomi yang merekam cara manusia menikmati kuliner sekaligus berinteraksi secara sosial pada zamannya.

Kesemua pandangan itu mengemuka dalam Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks 2026 digelar di DI Yogyakarta pada Jumat (2/10) dengan menghadirkan 22 pembicara dari unsur pemerintah, industri, pegiat seni, hingga akademisi untuk mengulas pengembangan gastronomi sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi berkelanjutan.