NADIKABAR.COM — Sejarah dan budaya yang melatarbelakangi sebuah hidangan menjadi bagian penting dalam pengembangan wisata gastronomi Indonesia selain cita rasa dan bahan pangan yang digunakan.

Dalam keterangan resmi Kementerian Pariwisata yang dikonfirmasi di Jakarta, Minggu, Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara mengatakan wisata gastronomi tidak sekadar menyajikan makanan, tetapi juga menghadirkan cerita, pengalaman budaya, serta keberlanjutan sumber pangan lokal.

"Semua produk wisata gastronomi di Jogja harus memiliki latar belakang cerita. Contohnya, mengapa kuliner Jogja cenderung manis? Karena pada masa Sultan Hamengkubuwono VII, terdapat sekitar 19 pabrik gula di Jogja. Gula menjadi simbol status sosial dan kekayaan bagi keraton, sehingga minuman dan makanan saat itu disajikan sangat manis. Jadi, orang tahu rekam sejarahnya; ini yang harus dikemas dengan baik," kata GKR Bendara.

GKR Bendara menyampaikan bahwa gastronomi bukan sekadar persoalan rasa, melainkan juga pemahaman terhadap filosofi dan identitas yang melatarbelakangi sebuah hidangan. Rekam sejarah yang terdokumentasi dengan baik menjadi salah satu kekuatan gastronomi Yogyakarta.

Contohnya seperti dua kuliner langka nasi golong gilig dan dawet sambal. Dawet sambal memadukan dawet manis, sambal pecel, dan tahu.

"Karena terkadang orang baru mendengar dawet sambal sudah menolak dulu, karena pikirannya dawet manis kok ada sambalnya. Jadi dawet manis tapi ada sambal pecelnya, jadi ada tahunya tapi ada dawetnya," ujarnya.

Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menambahkan gastronomi perlu dikemas melalui narasi yang kuat dan berpijak pada nilai budaya.

Dia mencontohkan rendang yang tidak hanya memiliki cita rasa khas, tetapi juga menyimpan makna filosofis.

"Gastronomi harus terus dicatat, diwariskan, dan diintegrasikan dengan penataan kota pusaka serta cerita sejarah agar memberikan nilai tambah yang optimal bagi wisatawan," ujar Ramlan.

Chef Fernando Sindu melanjutkan bahwa konsumen lokal memiliki standar tinggi terhadap makanan daerah karena terdapat ikatan emosional dengan hidangan yang dikenal sejak kecil.

"Orang Indonesia sangat kritis terhadap makanan lokal karena memiliki kenangan atau ikatan emosional dengan masakan keluarga seperti nenek atau ibu. Jadi penting banget untuk memahami resep dari sumber aslinya di berbagai daerah agar dapat menyajikan makanan yang autentik sekaligus memberikan sedikit sentuhan atau modifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada konsumen," katanya.

Sementara itu, ilustrator sekaligus pengisah makanan Nugraha Pratama mengatakan tantangan dalam menggambarkan makanan bukan hanya memvisualisasikan rasa, melainkan menangkap budaya di balik hidangan yang memiliki latar belakang sejarah panjang.

"Bagian tersulit bukan menggambarkan rasa, melainkan menangkap budaya di balik makanan tersebut karena memiliki latar belakang sejarah yang panjang dan mendalam," ucap dia.

Melalui goresan sketsa, ia terus berupaya membangun dokumentasi sejarah visual gastronomi yang merekam cara manusia menikmati kuliner sekaligus berinteraksi secara sosial pada zamannya.

Kesemua pandangan itu mengemuka dalam Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks 2026 digelar di DI Yogyakarta pada Jumat (2/10) dengan menghadirkan 22 pembicara dari unsur pemerintah, industri, pegiat seni, hingga akademisi untuk mengulas pengembangan gastronomi sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi berkelanjutan.