"Presiden Soekarno lalu menyambut usulan tersebut dengan menggelar musabaqah internasional pada saat Konferensi Islam Asia Afrika di Bandung pada tahun 1965. Itulah MTQ pertama kali dan langsung bertaraf internasional. Setelah itu, Bung Karno menugaskan 11 orang qori Indonesia bermuhibah ke beberapa negara sahabat," ulas Lukman Hakim Saifuddin.

Melihat besarnya dampak syiar yang dihasilkan, pemerintah resmi melembagakan MTQ. Gelaran MTQ Nasional Pertama akhirnya diresmikan pada 1968 di Makassar, Sulawesi Selatan. Kala itu, cabang yang dipertandingkan masih sebatas tilawah dewasa, yang melahirkan tokoh qari legendaris seperti Ahmad Syahid dari Jawa Barat dan Muhammadong dari Sulawesi Selatan.

Sejak 1968 hingga 1981, MTQ diadakan setiap tahun. Namun, setelah MTQ di Provinsi Aceh pada 1981, formatnya diubah menjadi dua tahun sekali bergantian dengan Seleksi Tilawatil Qur'an (STQ).

Sistem perlombaannya pun dibuat berjenjang mulai dari tingkat desa/kampung, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga puncaknya di tingkat nasional.

Namun, di era kepemimpinan Menteri Agama Nasaruddin Umar, kebijakan format ini kembali mengalami penyegaran. Menag mengumumkan bahwa STQ akan ditiadakan dan MTQ Nasional resmi dialihkan menjadi agenda rutin tahunan.

"Kita sudah memutuskan bahwa setiap tahun akan dilaksanakan MTQ. Sebab, energi yang dikeluarkan dalam penyelenggaraan STQ relatif sama dengan MTQ. Karena itu, sekalian saja kita ubah menjadi MTQ," ujar Menag Nasaruddin Umar usai Malam Ta'aruf MTQ Nasional XXXI di Kantor Gubernur Jateng, Semarang, Jumat (11/9/2026).

Menag menegaskan kembali perubahan ini saat pembukaan MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila, Semarang. Menurutnya, langkah ini diambil untuk mempercepat antrean provinsi yang ingin menjadi tuan rumah.