NADIKABAR.COM — Ada luka yang tidak selalu terlihat di ruang kelas. Seorang anak mungkin tetap datang ke sekolah, mengikuti pelajaran, bahkan tersenyum ketika berjumpa dengan teman-temannya.
Di balik sikap yang tampak biasa, bisa tersimpan rasa takut, tekanan pergaulan, atau pengalaman direndahkan yang tidak berani disampaikan kepada orang dewasa.
Perundungan dapat bermula dari tindakan yang dianggap sepele, seperti ejekan, pemberian julukan yang merendahkan, pengucilan, hingga kekerasan yang dilakukan berulang.
Tidak semua murid mampu mengenali dirinya sebagai korban, apalagi berani meminta pertolongan. Karena itu, sekolah harus menjadi ruang belajar yang menjamin setiap anak merasa aman, diterima, dan dihargai.
Di Ibu Kota Jawa Timur, Pemerintah Kota Surabaya memperkuat pencegahan perundungan dengan mengoptimalkan peran 3.856 guru kelas dan 283 guru bimbingan konseling (BK).
Langkah ini strategis karena interaksi sehari-hari menempatkan guru pada posisi penting untuk mengenali perubahan perilaku, mengamati hubungan antarmurid, sekaligus memberikan pendampingan sejak dini.