Dinas Pendidikan Kota Surabaya juga mendorong komunikasi rutin antara guru dan orang tua. Hal ini penting karena persoalan yang dihadapi anak tidak selalu berawal di sekolah, tetapi dapat muncul dari lingkungan keluarga, pergaulan, maupun interaksi di ruang digital.

Dengan banyaknya guru yang dilibatkan, tidak serta-merta menjamin sekolah terbebas dari perundungan. Keberhasilan upaya tersebut bergantung pada kemampuan mengenali tanda-tanda kekerasan sejak dini, keberanian anak untuk bercerita, kualitas pendampingan, serta kepastian bahwa setiap laporan ditindaklanjuti secara tepat.

Sekolah menjadi ruang bagi anak memahami perbedaan, membangun persahabatan, dan menghargai orang lain. Namun, interaksi yang tidak dikelola dapat berubah menjadi pengucilan dan perilaku merendahkan.

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang diterbitkan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan 25 persen siswi dan 30 persen siswa berusia 15 tahun di Indonesia mengaku mengalami perundungan, setidaknya beberapa kali dalam sebulan.

Sebanyak 17 persen siswa Indonesia juga mengaku tidak merasa aman di area sekolah selain ruang kelas, seperti lorong, kantin, dan toilet. Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata OECD sebesar 10 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa rasa aman tidak cukup dibangun dengan ketertiban di kelas.