NADIKABAR.COM — Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Cirebon, Jawa Barat membentuk karakter siswa agar lebih disiplin melalui pembiasaan kegiatan harian di sekolah dan asrama, mulai dari mengatur waktu istirahat hingga menjalankan ibadah.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Cirebon Mimin Kasminah mengatakan perubahan perilaku siswa mulai terlihat setelah mengikuti pendidikan berasrama yang mencakup kegiatan pembelajaran dan pengasuhan selama 24 jam.
“Alhamdulillah sekarang sudah banyak perubahan. Bertemu dengan siapa pun mereka pasti salam tangan, cium tangan,” kata Mimin di Cirebon, Senin.
Ia menuturkan, pada awal masuk sekolah sejumlah siswa belum terbiasa menjalani rutinitas secara teratur, termasuk mengatur waktu tidur yang terkadang baru dilakukan pada pukul 02.00 hingga 03.00 WIB.
Kini, kata dia, sebagian besar siswa sudah terbiasa beristirahat sekitar pukul 23.00 WIB, kemudian bangun pagi untuk beribadah di masjid dan mempersiapkan diri sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran.
“Pagi-pagi mereka bangun ke masjid, sesudah dari masjid persiapan untuk bisa melaksanakan kegiatan di persekolahan,” ujarnya.
Menurut Mimin, pembiasaan tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter agar siswa memiliki kebiasaan yang lebih teratur, baik dalam menjalankan aktivitas pribadi maupun ketika berinteraksi dengan orang lain.
Ia menyampaikan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Cirebon memulai kegiatan open house pada 31 Juli 2026, sedangkan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) dimulai pada 15 Agustus 2026 setelah mempertimbangkan kondisi sarana dan prasarana yang masih terdampak debu pembangunan.
Sekolah tersebut, lanjut dia, memiliki kuota 540 siswa dari empat daerah, yakni Kabupaten Cirebon sebanyak 270 siswa serta Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka masing-masing 90 siswa, dengan jumlah siswa yang tercatat pada awal MPLS sebanyak 529 orang.
Mimin mengakui pelaksanaan pendampingan sempat menghadapi keterbatasan tenaga pengasuh, karena seorang wali asuh yang idealnya menangani 10 siswa saat itu harus mendampingi lebih dari 50 siswa.
“Untuk membantu pelaksanaan kegiatan, sekolah mendapat dukungan pendamping dari tiga Sekolah Rakyat di kabupaten dan kota lain serta bantuan pembinaan dari tim kadet Universitas Pertahanan,” katanya.
Selain pendidikan karakter, pihaknya menyediakan kebutuhan dasar siswa, mulai dari makanan tiga kali sehari dan dua kali makanan selingan, pakaian, sepatu, perlengkapan belajar, hingga tempat tidur selama tinggal di asrama.