NADIKABAR.COM — Setiap anak memiliki mimpi tentang masa depan yang ingin diraihnya.
Ada yang ingin mengenakan jas dokter, menjadi peneliti, mengabdi kepada negara sebagai diplomat, mengembangkan bakat menyanyi, atau menorehkan prestasi olahraga.
Mimpi-mimpi itu tumbuh dengan cara berbeda, tetapi memiliki satu kebutuhan yang sama, yakni kesempatan.
Anak-anak membutuhkan lingkungan yang membuat mereka berani mencoba, guru yang mendampingi perjalanan mereka, serta ruang untuk mengenali kemampuan diri.
Kesempatan itulah yang ingin dimanfaatkan Agisni Ramadani, murid Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Ia berharap dapat menimba ilmu, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan diri untuk meraih cita-citanya menjadi dokter spesialis.
"Saya sangat senang setelah diterima di sini. Saya berharap bisa berkembang dan menjadi lebih baik lagi. Saya ingin menjadi dokter spesialis," kata Agisni.
Jauh dari Bogor, Marisa, murid baru jenjang SMP di SNT Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur juga menyimpan harapan melalui bangku sekolah. Ia ingin mengembangkan kegemarannya menyanyi yang terus diasah melalui latihan setiap hari.
Bagi Marisa, pendidikan bukan hanya tentang memahami pelajaran, namun juga kesempatan mengenali kemampuan diri dan mengejar hal yang disukai. Melalui lingkungan belajar yang mendukung, ia berharap dapat terus mengasah suara dan mengembangkan bakatnya.
Di SNT 6 Bone Bolango, Gorontalo, Nurfadhilah Ramadhani Djamal menemukan sekolah yang menyenangkan bukan hanya tentang pelajaran dan prestasi, melainkan juga lingkungan pertemanan yang membuatnya merasa diterima.
Murid jenjang SMA yang berprestasi di bidang atletik itu bercita-cita menjadi Menteri Luar Negeri.
Baginya, lingkungan pertemanan yang nyaman menjadi bagian penting dalam perjalanan mengejar mimpi.
"Teman-teman di sini baik, tidak ada bully," kata Nurfadhilah.
Rasa aman dan penerimaan dari teman sebaya memberinya ruang untuk tumbuh dan mengembangkan potensi.
Ia meyakini pengalaman sederhana seperti memiliki teman yang baik dapat membantu orang membangun keyakinan terhadap dirinya sendiri.
Suasana belajar yang mendukung perkembangan murid juga mempengaruhi para guru.
Firda Aulia Shalihah, guru Bahasa Indonesia di SNT 6 Bone Bolango mengaku semangat murid-muridnya mendorong dirinya untuk terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kemampuan sebagai pendidik.
"Jadi, itu yang bikin saya, 'Wah, saya ini harus juga sama seperti mereka'. Semangat untuk upgrade diri harus lebih dari mereka," ujar Firda.
Menurut Firda, murid bukan sekadar penerima pengetahuan, melainkan individu yang memiliki gagasan dan pengalaman untuk dibagikan.
Pembelajaran, kata Firda, semestinya tidak berhenti pada guru yang menjelaskan dan murid yang mendengarkan.
Ketika anak diberi kesempatan bertanya, mengemukakan pendapat, dan berbagi pengetahuan, ruang kelas dapat menjadi tempat tumbuh bersama, guru dan murid sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik.
Semangat memberi ruang bagi rasa ingin tahu murid tercermin dalam pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Sports (STEAMS) yang diterapkan di SNT.
Pendekatan tersebut memadukan sains, teknologi, rekayasa, seni, matematika, dan olahraga melalui pembelajaran kontekstual.
Murid tidak hanya menghafal teori, namun juga mengeksplorasi pengetahuan, bekerja sama, menguji gagasan, dan mencari solusi atas persoalan.
Di SNT 7 Bogor, pendekatan itu diwujudkan melalui proyek Smart Perimeter: Explore, Detect, Protect Perbatasan Laut Indonesia dan Singapura.
Dalam proyek tersebut, murid memadukan Pendidikan Pancasila, fisika, informatika, dan koding untuk merancang sistem yang dapat mendeteksi objek yang mendekat dan memberikan peringatan melalui lampu serta bunyi buzzer.
Proyek itu membawa konsep dalam buku ke pengalaman nyata. Murid dapat menerapkan pengetahuan, menyusun solusi, dan memahami bagaimana berbagai bidang ilmu saling melengkapi untuk menghasilkan karya.
Memperluas akses belajar berkualitas