Kajian tersebut juga menjelaskan bahwa Pulau Jawa dan Pulau Sumatra diperkirakan pernah terhubung sebelum Late Miocene. Kemudian, sejak sekitar Mio-Pliosen, kedua pulau mulai saling berpisah dan membentuk lorong sempit yang berkembang menjadi kawasan Selat Sunda.
Proses terbentuknya Selat Sunda berkaitan erat dengan aktivitas tektonik. Perubahan kondisi tektonik di kawasan tersebut menjadi salah satu pemicu awal terbentuknya selat.
Aktivitas geologi kemudian terus berlangsung dan turut ditandai dengan gempa bumi serta aktivitas gunung api di sekitar Krakatau. Karena itu, Selat Sunda dikenal sebagai kawasan dengan kondisi geodinamika yang aktif.
Sebelum menjadi selat seperti sekarang, wilayah tersebut diperkirakan pernah berupa daratan hingga lingkungan laut dangkal. Aktivitas vulkanisme mulai berkembang pada Late Miocene bersamaan dengan proses pembukaan kawasan Selat Sunda.
Proses pemisahan Jawa dan Sumatra berlangsung secara bertahap dalam skala waktu geologi. Pada Late Miocene, kedua wilayah mulai mengalami proses pemisahan yang kemudian membentuk kawasan Selat Sunda.