NADIKABAR.COM — Lomba Musabaqah Seni Baca Al-Qur'an dalam ajang MTQ Nasional XXXI 2026 di Jawa Tengah diikuti 40 peserta tunanetra. Mereka adu merdu baca Al-Qur'an demi mendapatkan tiket menuju babak final.
Lomba Seni Baca golongan Tartil dan Tilawah Tunanetra itu digelar di gedung Balai Besar Pelatihan Vokasi & Produktivitas Semarang (BBPVP) Semarang, Kecamatan Pedurungan. Tampak para peserta tuna netra dari berbagai daerah bergilir melantunkan ayat Al-Qur'an dengan nada yang indah.
PIC Majelis 3, Muhammad Asyiq mengatakan, terdapat delapan peserta dari golongan tilawah tunanetra siang ini. Sebelumnya, sudah ada juga 14 peserta Tartil yang tampil pada sesi pagi.
"Total keseluruhan, ada sekitar 70 peserta untuk golongan Tartil dan yang disabilitas netra ada 40 peserta," kata Asyiq di gedung BBPVP Semarang, Minggu (13/9/2026).
Asyiq menjelaskan, ayat yang dibaca para peserta ditentukan melalui sistem pengacakan elektronik. Untuk golongan tartil, peserta baru mengetahui ayat yang diperoleh sekitar 16 jam sebelum tampil.
"Kalau untuk peserta Tilawah Tunanetra, ayatnya diacak satu jam sebelum tampil. Ini kan bukan cabang tahfiz, jadi mereka boleh membaca. Tapi untuk yang disabilitas mayoritas hafal, kalau nggak hafal kita fasilitasi mushaf Braille," ujarnya.
Dalam penilaiannya, kata Asyiq, dewan hakim memperhatikan beberapa aspek, mulai dari tajwid, kefasihan, hingga irama dan suara. Peserta rata-rata diberikan waktu sekitar 7-9 menit untuk membaca.
"Juri atau dewan hakim ada 9 orang, untuk golongan tilawah tunanetra 12 dewan hakim," jelasnya.
Ia menjelaskan, lomba tersebut berlangsung dalam dua tahap penyisihan yang dimulai hingga Kamis (17/9). Babak final dijadwalkan pada Jumat (18/9).
Salah satu peserta Tilawah Tunanetra dari Jateng, Ahmad Zainuddin (15) baru saja mengikuti perlombaan tersebut. Ahmad berkesempatan membaca Surah Ali-Imran ayat 189.
"Suratnya ini tentang kecintaan Allah, tentang langit dan bumi," kata Ahmad usai mengikuti lomba.
Ia mengaku, MTQ Nasional tahun ini menjadi pengalaman pertamanya tampil di tingkat nasional. Pria asal Semarang itu sudah mempersiapkan tilawah secara intens selama sekitar satu tahun.
"Saya itu mulai dari 2017 menghafalkan Al-Quran di Pondok Pesantren Al-Khairiah Jepara. Dan persiapan menghafal Al-Qur'an itu dulu saya 3 tahun untuk menghatapkan 30 juz," kata Ahmad.
Setelah menyelesaikan hafalan 30 juz, kata Ahmad, ia memperdalam kemampuan tilawahnya. Mulai dari teknik pernapasan, mengatasi suara serak hingga melatih cengkok.
"Untuk mempelajari tilawah alhamdulillah saya menjalani pelan-pelan untuk serius ini 1 tahun persiapannya. Dan itu penuh dengan teknik pernapasan, teknik untuk menghilangkan suara serak untuk melanyarkan cengkok itu 1 tahun saya untuk berlatih," ujarnya.
Ahmad sendiri merupakan penyandang tunanetra sejak lahir. Dia mengatakan, keterbatasan penglihatan membuat proses belajar Al-Qur'an dilakukan dengan mengandalkan pendengaran.
"Kesulitannya ketika belum bisa ya karena tunanetra itu menghafalnya pakai pendengaran. Kalau diajarin ustaznya nggak bisa-bisa, sulitnya di situ. Makanya ustaz yang mengajar tunanetra itu memang harus benar-benar sabar, benar-benar ikhlas," tuturnya.
Ahmad pun mengatakan, mengikuti ajang MTQ Nasional ini bukan semata-mata untuk mengejar juara. Dia justru ingin memperdalam kemampuan membaca Al-Qur'an dan mendapatkan pengalaman dari para pembina.
"Harapan saya di tahun ini saya itu bukan niat cari juara. Saya niatnya untuk mempelajari tilawah Al-Qur'an itu lebih dalam," kata Ahmad.
Ahmad juga sempat bercerita perjalanannya mempelajari Al-Qur'an, yang bermula ketika usianya 16 tahun, saat dia masuk pondok pesantren untuk lebih fokus belajar. Sebelumnya, ia mengaku kesulitan belajar Al-Qur'an.
"Kalau dulu mau belajar Al-Qur'an itu sulit awalnya, karena saya nggak bisa baca. Hampir saya dulu itu mau frustrasi. Sampai-sampai saya udah mikir saya mau nakal aja lah nggak apa-apa," kenangnya.
Namun, saat ia tengah jalan-jalan ke Jawa Timur, ia bertemu orang tak dikenal yang tiba-tiba menegurnya dam mengingatkan dirinya mengenai fungsi telinga, pikiran, dan hati yang dimilikinya.
"Kata teman saya orang itu hanya pakai celana nggak pakai baju, tiba-tiba bilang 'bodoh kamu, kamu dikasih telinga, dikasih pikiran, dikasih mulut, dikasih hati'. Habis itu beliau langsung pergi," ucapnya.
Nasihat tersebut kemudian menjadi prinsip Ahmad dalam menghafalkan Al-Qur'an. Dia mulai mengandalkan pendengarannya untuk menghafalkan Al-Qur'an.
"Jadi prinsip saya untuk menghafal Al-Qur'an itu adalah pakai pendengaran yaitu lewat telinga, telinga nanti kita ingat-ingat lewat kepala, lewat pikiran. Kalau sudah sampai pikiran, kita tancapkan ke hati," ujarnya.
Ahmad mengaku telah beberapa kali mengikuti MTQ di tingkat provinsi. Bahkan pada 2023, dia meraih juara 2 tingkat Provinsi Jawa Tengah dan kembali meraih juara 2 pada ajang tingkat provinsi di Tegal pada 2025.
"Kalau nasional ini baru pertama. Alhamdulillah ini pengalaman yang saya rasakan memang sangat nikmat banget berkumpul dengan ahlul Qur'an," katanya.
Ahmad berharap, pengalaman tersebut dapat membuatnya semakin mendalami Al-Qur'an. Dia juga berpesan kepada masyarakat yang ingin belajar Al-Qur'an agar tidak mudah menyerah meski baru memulai di usia dewasa.
"Yang penting yang pertama itu ada niat, ada tekad," ujarnya.
Sementara itu, peserta lainnya dari Kalimantan Timur, Siti Nurjannah (49), juga tampil pada cabang Tilawah Tunanetra. Dia mengaku telah melakukan persiapan selama sekitar sembilan bulan.
"Persiapannya saya berlatih selama 9 bulan," kata Nurjannah.
Nurjannah sebelumnya juga pernah mengikuti MTQ Nasional 2025 yang digelar di kampung kalamannya. Ia pun meraih Juara Harapan 1.
"Targetnya kalau tahun ini mudah-mudahan juara satu. Tadi saya membaca Surat Al-Anfal ayat 1. Lancar tadi, walau ada sedikit kesulitan," ujarnya.