Ia dikenal karena melukis tubuh telanjang perempuan dan laki-laki dengan titik-titik, dengan tujuan menghapus individualitas subjek yang dilukis. Ia menyebut hal ini sebagai "penghapusan diri," dan konsep ini mengalir di seluruh karya seninya. "Dengan menghapus diri sendiri, kamu kembali ke alam semesta yang tak terbatas," kata Kusama suatu kali.

Pada 1966, Kusama memamerkan Narcissus Garden di Biennale Venesia meski tidak mendapat undangan resmi dari penyelenggara. Ia menempatkan 1.500 bola bercermin di hamparan rumput dekat lokasi pameran dan menawarkan masing-masing bola seharga 2 dolar AS kepada para pengunjung.

Aksi tersebut segera menarik perhatian dan akhirnya dihentikan oleh pihak Biennale. Namun, Narcissus Garden tetap dikenang sebagai karya yang menyoroti hubungan tim redaksi seni, nilai jual, dan posisi seniman dalam pasar seni yang semakin komersial.

Pada 1993, Kusama kembali ke Biennale Venesia, kali ini sebagai seniman yang diundang secara resmi untuk mewakili Jepang. Kehadirannya menandai perubahan besar dibanding hampir tiga dekade sebelumnya, ketika ia memamerkan karya di ajang yang sama tanpa undangan resmi.

Dalam wawancara dengan Financial Times, Kusama pernah mengatakan bahwa ia ingin "menjadi lebih terkenal, bahkan lebih terkenal lagi." Pernyataan itu mencerminkan besarnya arti pengakuan publik dalam perjalanan kariernya, meski sebagian pengamat menilainya terlalu menekankan aspek ketenaran.

Dalam satu dekade terakhir, Kusama menjelma menjadi salah satu seniman paling populer di dunia. Pada 2018, Museum The Broad di Los Angeles menjual 90.000 tiket prapenjualan untuk pamerannya dalam waktu singkat. Pameran Kusama di Tate Modern, London, pada 2022 juga ludes terjual, termasuk saat masa penyelenggaraannya diperpanjang. Di saat yang sama, karya-karyanya mencapai nilai jutaan dolar AS di rumah-rumah lelang.

Kusama kembali ke Jepang pada 1973 dan memilih tinggal di sebuah klinik psikiatri di Tokyo, tempat ia menjalani perawatan kesehatan mental. Dari sana, ia terus berkarya dengan menghasilkan lukisan, patung, instalasi, dan berbagai karya lain yang dipamerkan di sejumlah negara.

"Saya akan terus menciptakan karya seni selama hasrat saya masih mendorong saya untuk melakukannya. Saya sangat tersentuh karena begitu banyak orang telah menjadi penggemar saya," kata Kusama dalam sebuah wawancara.

"Saya kira saya tidak akan bisa mengetahui bagaimana orang-orang akan menilai seni saya sampai setelah saya meninggal. Saya menciptakan seni untuk penyembuhan seluruh umat manusia."

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris