Dengan kerugian tersebut, pria 29 tahun itu merasa tidak bisa seterusnya seperti ini. Ia merasa harus melakukan suatu perubahan karena jika tidak, dia tidak bisa melanjutkan operasi usaha kulinernya tersebut.

Tommy dan keluarganya telah mengelola Bai Nian Food Court sejak 2017. Area pujasera itu terdiri dari delapan kios, termasuk kios minuman. Beberapa di antaranya ditempati oleh merek makanan dan minuman milik keluarganya sendiri, termasuk Bai Nian, Shi Nian, dan Mie udang Hae! Mee.

Selama 9 tahun menjalani bisnis pusat kuliner tersebut, menurut Tommy salah satu tantangan utama adalah menemukan penyewa. Dalam unggahan videonya ia bercerita bagaimana sebuah kios yang menjual Western food secara tiba-tiba membatalkan penyewaan.

Hal ini membuat Tommy kehilangan seluruh uang deposit dalam jumlah besar. Tommy dan keluarganya juga sempat mencari penyewa yang mau menjual makanan India untuk mengambil alih, tetapi tidak berhasil mendapatkannya.

Selain penyewa, kepada 8days.sg Tommy juga mengaku masalah terbesar lainnya adalah jumlah pengunjung. Bisnisnya mulai menurun sejak pandemi Covid-19 melanda. Menurutnya banyak perusahaan pindah dari kawasan bisnis dan bekerja dari rumah, sehingga bangunan tempat berdirinya food court tersebut pun menjadi sangat sepi.

Tommy bercerita jika bukan usaha kuliner Bai Nian saja yang sepi, melainkan gerai makanan dan minuman lain di kompleks tersebut juga sangat sepi, terutama di hari kerja.

Area makan food court yang seharusnya mampu menampung sekitar 400 sampai 500 pengunjung kini hanya terisi 10-20%nya selama jam makan siang di hari kerja. Di akhir pekan, pengunjung yang datang lebih banyak karena area food court terisi sekitar 80% selama jam makan siang.