Berdasarkan laporan koresponden AFP, kaca depan sebuah toko produk perawatan kulit hancur dekat alun-alun Republique, Paris. Para penjarah melemparkan produk-produk kecantikan kepada puluhan orang yang berkumpul di luar.

Selain itu, monumen utama di Republique dipenuhi coretan grafiti, batu-batu trotoar di sekelilingnya dicongkel. Sebuah bar bernama "La Barrique" tampak kebakaran dilalap api.

Di kota terbesar kedua, Marseille, para pengunjuk rasa yang marah merusak puluhan toko. Mereka menyasar gerai merek mewah Hermes serta toko-toko lain yang menjual perhiasan, pakaian, kosmetik, peralatan rumah tangga, bahkan roti.

Di kota Lille, wilayah utara, sejumlah toko dirusak. Wali kota dari Partai Sosialis, Arnaud Deslandes, menyebutkan para penjarah sempat membobol sebuah Apple Store di pusat kota.

Beberapa toko juga dijarah di kota Nice, wilayah selatan, termasuk gerai pakaian olahraga dan sebuah diler sepeda motor.

Jumlah orang ditangkap akibat demo yang berujung ricuh di paris dan kota-kota Prancis bertambah. Kini lebih dari 1.800 orang ditangkap akibat bentrokan antar polisi dan massa yang berujung penjarahan dan pembakaran.

Dilansir AFP, Minggu (18/10/2026), lebih dari 1.800 orang ditangkap selama dan setelah aksi protes yang diwarnai kekerasan di Prancis. Jumlah ini bertambah dari sebelumnya disebutkan 1.200 orang ditangkap.

"1.800 orang telah ditangkap dan kini penyelidikan sedang berlangsung untuk mengidentifikasi para pelaku tindakan tersebut agar mereka dapat diadili," kata Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez, dalam sebuah postingan di platform X-nya.

Lebih dari 500 petugas kepolisian terluka di seluruh Prancis. Sementara itu, Kepolisian Paris menyatakan telah menangkap 855 orang. Jumlah tersebut merupakan 'rekor' penangkapan terkait kekerasan dalam unjuk rasa di ibu kota Prancis tersebut.

Demonstrasi massa yang memprotes terkait biaya hidup di Paris, Prancis berakhir ricuh. Tak hanya sejumlah toko brand mewah yang dijarah, massa juga membakar gedung balai kota Limoges, Prancis.

Dilansir Reuters dan AFP, Minggu (18/10/2026), Balai kota di Limoges hampir seluruhnya hancur akibat kebakaran yang sengaja dilakukan oleh pengunjuk rasa bertopeng tersebut.

"Atapnya telah runtuh menimpa lantai-lantai di bawahnya-kecuali di sayap barat-dan dua pertiga bagian luar bangunan sudah lenyap," kata pejabat prefektur setempat, Maurice Barate, kepada AFP.

Ia menyebut kerusakan parah pada bangunan berusia 143 tahun itu sebagai bencana bagi warisan sejarah. Ia juga mengecam tindakan tersebut sebagai "aksi sengaja yang dilakukan oleh para perusuh".