Penelitian pada pasien GERD menunjukkan bahwa setelah mengalami kurang tidur, peserta lebih cepat merasakan gejala akibat paparan asam dan menilai intensitas keluhannya lebih tinggi dibandingkan setelah mendapatkan tidur yang cukup.

Karena itu, seseorang yang sering begadang dapat merasa nyeri ulu hati, sensasi terbakar di dada atau rasa asam dan pahit di mulut lebih mengganggu, terutama jika sebelumnya memang memiliki masalah refluks.

Cara mengurangi risiko asam lambung saat sering beraktivitas malam

Mengatur waktu tidur menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan. Selain itu, orang yang rentan mengalami refluks dapat menghindari makan terlalu dekat dengan waktu tidur dan memberi jeda sekitar dua hingga tiga jam setelah makan sebelum berbaring.

Posisi tidur juga dapat diperhatikan. Pedoman klinis merekomendasikan meninggikan bagian kepala tempat tidur untuk membantu mengurangi gejala GERD pada malam hari. Berbaring ke sisi kiri juga dapat membantu mengurangi refluks dibandingkan posisi sisi kanan pada sebagian penderita.

Jika keluhan asam lambung muncul berulang, mengganggu tidur, menyebabkan sulit menelan, muntah, penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya atau disertai nyeri dada, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Dengan demikian, hubungan antara begadang dan asam lambung tidak hanya berkaitan dengan jam tidur. Kurang tidur dapat berkaitan dengan peningkatan paparan asam dan sensitivitas terhadap gejala, sementara kebiasaan makan larut malam serta langsung berbaring setelah makan dapat semakin memperbesar risiko munculnya refluks.