Kadar gula darah yang tinggi dan resistensi insulin dapat mengganggu aliran glukosa ke otak dan memicu peradangan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan belajar dan mengingat serta berkaitan dengan Alzheimer dan Parkinson.

Pola makan yang banyak mengandung karbohidrat olahan dikaitkan dengan risiko depresi yang lebih tinggi. Hubungan keduanya saling berkaitan, orang yang sedang mengalami depresi cenderung memilih makanan tinggi karbohidrat. Sementara itu, tepung olahan diduga dapat mempengaruhi suasana hati melalui perubahan gula darah dan peradangan dalam tubuh.

Konsumsi karbohidrat olahan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko resistensi insulin yang berkaitan dengan sindrom metabolik dan diabetes tipe 2. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering mengosumsi karbohidrat olahan memiliki risiko sindrom metabolik 41 persen lebih tinggi.