Karena itu, rasa lega setelah mengeluh belum tentu berarti masalahnya sudah selesai.

3. Bisa membuat seseorang semakin sulit mencari solusi

Mengeluh dapat menjadi langkah awal untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, jika berhenti pada keluhan, seseorang bisa terjebak dalam pembicaraan yang sama.

Dalam kondisi seperti ini, perhatian lebih banyak digunakan untuk mengulang apa yang salah dibandingkan memikirkan apa yang masih bisa dilakukan.

Psychology Today menyebut kebiasaan mengeluh terus-menerus dapat membuat seseorang merasa tidak berdaya dan mengurangi dorongan untuk mengambil tindakan.

Padahal, setelah mengakui bahwa sesuatu memang membuat kesal, langkah berikutnya adalah menentukan apakah masalah tersebut bisa diperbaiki, diterima, atau setidaknya dikelola.

4. Mengganggu hubungan dengan orang lain

Keluhan yang terlalu sering juga dapat memengaruhi hubungan dengan orang-orang di sekitar.

Jika hampir setiap percakapan hanya berisi masalah, kemarahan, atau ketidakpuasan, lawan bicara lama-kelamaan dapat merasa lelah. Bukan berarti orang lain tidak peduli, tetapi mereka juga memiliki batas dalam menerima energi negatif.

"Jika setiap percakapan berubah menjadi ajang mengeluh, lama-kelamaan orang akan enggan melanjutkan percakapan tersebut," kata Mary McLaughlin, LCSW, terapis yang berspesialisasi dalam hubungan, seperti dikutip ANTARA dari Real Simple.

Hal serupa juga dijelaskan Cleveland Clinic. Venting atau meluapkan emosi dapat menjadi bagian dari proses menghadapi masalah, tetapi ketika berubah menjadi oversharing yang terus-menerus dan tidak memberi ruang bagi orang lain, hubungan dapat ikut terdampak.

5. Keluhan bisa membuat suasana hati ikut memburuk

Menariknya, dampak negatif dari mengeluh tidak hanya dirasakan oleh orang yang mengeluh. Orang yang mendengarkan keluhan secara terus-menerus juga dapat ikut merasakan dampaknya.